Dinamika The Paris Attack dan New Media

Setelah riwayat perang melawan Al-Qaeda tamat, yang ditandai dengan matinya Osama bin Laden pada tahun 2011, ISIS menjadi ”hantu pencabut nyawa” yang paling ditakuti negara-negara Barat. Dalam kurun waktu satu bulan, ISIS berhasil melancarkan empat teror di empat negara berbeda, membunuh sekitar 500 orang tak berdosa. Pada 10 Oktober 2015, ISIS meneror Turki dengan dua bom kembar di Ankara yang menewaskan 112 orang. Tiga minggu kemudian pada tanggal 31 Oktober 2015 ISIS yang diduga menanam bom di pesawat Metrojet Airbus A321 milik Rusia yang kemudian meledak di atas Gurun Sinai, Mesir, menewaskan seluruh penumpang sebanyak 224 orang turis Rusia. Dua hari sebelum Paris Attack (13 November 2015), bom bunuh diri di Beirut Selatan, Lebanon, lokasi hunian komunitas Syiah menewaskan 43 orang, sedangkan bom di Paris membunuh sedikitnya 153 orang dan melukai sekitar 300 orang. Semua sasaran teror di atas terkait dengan keterlibatan negara mereka secara langsung atau tidak langsung dalam perang melawan ISIS di Irak dan Suriah. Jurgens Meyer dalam bukunya “Terror in the Mind of God: The Global Rise of Religious Violences” (2003), menyebut:
“Teror tidak ubahnya aksi teatrikal. Para pelaku secara sadar memilih lokasi yang akan menjadi tempat sasaran untuk menyampaikan pesan. Tempat itu idealnya dapat menjadi panggung yang menarik audiens sebanyak-banyaknya dan seluas-luasnya.”

Paris Attack

Paris Attack-I terjadi pada bulan Januari 2014, serangan teroris ke kantor redaksi majalah Charlie Hebdo. Media ini pernah memuat berita tentang penghinaan terhadap Nabi Muhammad, berdampak pada reaksi kelompok Islam fundamentalis (ISIS) melakukan serangan ke kantor media tersebut.
Paris Attack Jilid II dirumuskan di Suriah, disusun di Belgia dan diletuskan di Paris (Mimpi Buruk di Paris, Sindo Weekly no 38 Tahun IV, 2015). Data Intelijen menyatakan ada 500 warga Perancis bergabung ISIS dan separohnya sudah kembali ke Perancis (Yves Trotigon, mantan anggota Intelijen Teror Perancis). Serangan bom Paris yang meletus pada hari Jumat, tanggal 13 November 2015, dilakukan oleh 8 orang Teroris. ISIS merasa sukses menjalankan misinya. Mereka telah menjalankan aksi kekerasan dipusat-pusat kerumuman manusia. yaitu, di gedung konser Bataclan, Restoran Le Petit Cambodge, Bar Le Carillon dekat kanal Saint Martin, Restoran La Belle Equipe, Boulevard Voltaire, Jalan Fontaine le Roi, dan sebuah bar di bagian luar Stade de France.
ISIS mengambil momen tepat tanggal 13, yang sesuai mitos hari yang menakutkan. Bersamaan dengan itu, pergelaran pertandingan sepak bola persahabatan antara Perancis dan Jerman yang dihadiri Presiden Perancis dan 80.000 penonton akan berdampak strategis.

Tujuan terpenting mereka adalah menyampaikan pesan dengan cara menebar ketakutan dalam skala seluas-luasnya. ISIS dalam beberapa bulan ini makin terdesak, baik di wilayah Irak maupun Suriah. Bahkan, beberapa wilayah strategis yang menjadi penyambung Raqqa dan Mosul lepas dari cengkeraman mereka. Raqqa adalah ’’pusat’’ ISIS di Syria dan Mosul. Aksi teror ISIS makin masif dalam beberapa bulan terakhir. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari fakta bahwa ISIS semakin terjepit di Irak dan Suriah setelah Rusia turun tangan melakukan serangan udara ke kantong-kantong ISIS di Suriah yang didukung penuh beberapa negara Barat, termasuk Iran. ISIS mulai kehilangan kekuatan, cepat atau lambat akan kehilangan kekuasaan di Irak dan Suriah. Maka, mereka mencari strategi lain untuk melawan gempuran aliansi negara-negara barat dan sekutunya di Timur Tengah dengan melakukan perang asimetris (asymmetric warfare).

Kegagalan Intelijen

Aparat keamanan Perancis telah meningkatkan keamanan dalam rangka menyongsong KTT Perubahan Iklim ke – 21, dari tanggal 30 Nov – 11 Des 2015 di Paris. Pintu masuk mulai diperketat mulai bulan Oktober 2015. Beberapa jam sebelum Paris Attack, Israel memberikan informasi rinci tentang sejumlah militan ISIS diyakini akan melancarkan serangan ke Paris ( Stasion TV Israel Channel Two, 14 November 2015). Salah satu pelaku Paris Attack Jilid II, Hasna Ait Boulachen sudah diketahui keberadaannya oleh aparat keamanan Perancis di apartemen milik sepupunya, Abdelhamid Abaoud, otak dibalik Paris Attack Jilid – II. Teleponnya telah disadap oleh aparat keamanan Perancis. Komunikasi dan koordinasi antar Badan-Badan Intelijen di Eropa tidak berjalan dengan baik dan maksimal. Keberadaan para teroris terditeksi, teleponnya sudah disadap dan pintu masuk sudah dilaksanakan pengetatan oleh aparat keamanan menyongsong KTT Perubahan Iklim, namun kegiatannya tidak terdeteksi dengan maksimal, berakibat Paris Attack jilid II tidak dapat diantisipasi.

New Media

Para pelaku Paris Attack II mengunakan handphone sebagai panduan. Peta lokasi disimpan dalam handphone sebagai pedoman mendekati target yang sudah ditentukan. Para pelaku Paris Attack selain menggunakan handphone mereka juga menggunakan PS4. “Ini sulit tidak hanya untuk Belgia tapi juga bagi dunia internasional dalam menterjemahkan komunikasi melalui perangkat PS4” (Mike Thompson, Sydney Morning Herald, 16/11/2015). Komunikasi teroris dengan menggunakan PS4 sulit diditeksi, mereka dapat merubah-rubah identitas dan sulit membedakan apakah komunikasi itu mainan apa komunikasi sebenarnya. Demikian juga, penggunaan sosial media dikalangan ekstrimis membuat hegemoni ISIS menjadi mengglobal dan cepat menyebar keseluruh dunia.

Paska Paris Attack II Google dan Facebook mengaktifkan “Safety Check”. Dengan menekan tombol “Saya Selamat”. Untuk membantu warga Paris yang masih selamat dan memberitahu teman dan keluarganya mereka tentang keadaan mereka. Google meluncurkan Google Hangouts yang memungkinkan Voice Over Internet protokols (VoIP) terhubung dengan Google Voice. Pengguna dapat menelpon ke Paris +33 dengan gratis. Pengguna Twitter meluncurkan #PorteOuverte untuk membantu orang mencari perlindungan.

Solusi

Yang perlu dilakukan oleh “Dunia Barat” sebenarnya adalah merangkul poros “Dunia Islam” yang mampu menggelorakan pesan damai dan anti kekerasan. Deradikalisasi terhadap para pengikut ISIS atau mereka yang mempunyai hasrat bergabung dengan ISIS sangat diperlukan. Jika para pengikut ISIS mau ”bertobat” dan keluar dari kelompoknya. Indonesia dalam menyebarluaskan pesan damai dapat memberdayakan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah untuk berperan aktif di pentas global. Sudah saatnya Islam Indonesia yang ramah dan toleran mengambil inisiatif menetralkan pengaruh ISIS. Dunia Barat” harus mulai memperbaiki kebijakannya terhadap “Dunia Islam”. Kemerdekaan Palestina dan menghentikan kolonialisme Israel harus menjadi agenda utama. Terlalu mahal ongkos yang mesti dibayar akibat kebijakan politik luar negeri negara-negara Barat yang selama ini lebih menguntungkan Israel daripada Palestina. Selain itu, perlu upaya mendorong demokrasi, pengentasan kemiskinan, pengangguran dan pengembangan pendidikan.

Pemimpin Dunia yang menghadiri KTT G-20 di Atalya, Turki, Minggu,15 November 2015 bersatu mengumumkan perlawanan terhadap Terorisme (Kompas, 16 Nov 2015), terorisme dijadikan musuh bersama (common threat).
Aparat keamanan fokus dan memprioritaskan terhadap ancaman bersama, yaitu ancaman terorisme. Setiap informasi tentang pergerakan ISIS disharing dan saling membantu dalam monitoring dan mengeleminir serta menghancurkan ISIS. Departemen keamanan Amerika mengeluarkan Global Travel Warning kepada warga negaranya untuk berhati-hati ditempat-tempat keramaian seperti mall, stadion, dan bandara dalam berpegian ke seluruh penjuru dunia sehubungan bulan November dan Desember yang merupakan momen libur panjang bagi warga negara Amerika. Bersamaan dengan itu, Kemhub RI mengeluarkan surat edaran no 87 /2015, tanggal 24 November 2015 tentang peningkatan status siaga dari hijau menjadi kuning (Kapuskom Publik Kemhub, Elshinta, 28 November 2015). Di bandara-bandara diseluruh Indonesia mengetatkan penjagaan dan pemeriksaan penumpang mulai tanggal 25 November 2015 dengan melibatkan aparat keamanan dari TNI dan Polri.

Sedikitnya 800 WNI telah bergabung dengan ISIS, didominasi generasi muda. Kita harus menangkal hegemoni ISIS di tanah air dengan mengandeng kelompok Islam moderat. Disisi lain kita meningkatkan upaya-upaya deradikalisasi terhadap kelompok ekstrim maupun mantan teroris. BNPT pada tahun 2015 meluncurkan jalandamai.org dan damailahindonesiaku.com (Kompas, 25 November 2015). Blog ini merupakan upaya deradikalisasi pemerintah Indonesia dalam menghadapi dan mengeleminir pergerakan dan pengaruh ISIS di seluruh Tanah Air. Pemerintah Indonesia mengeluarkan kebijakan Prioritas ke-8, Nawacita tentang Revolusi Mental yang dijabarkan dalam prespektif pertahanan berupa Perpres Nomor 97 tahun 2015 tentang Kebijakan Umum Pertahanan Negara 2015-2019 dan Rencana Strategi Kemhan tahun 2015-2019. Dengan substansi diantaranya peningkatan kesadaran Bela Negara diimplementasikan melalui strategi pendidikan kesadaran Bela Negara dengan leading sektor Kementerian Pertahanan. Kebijakan ini bertujuan untuk meningkatkan nilai-nilai dasar Bela Negara yaitu Cinta Tanah Air, Rela Berkorban, Yakin Pancasila Sebagai Ideologi Negara, Sadar Berbangsa dan Bernegara dan Memiliki Kesiapan Awal Bela Negara fisik maupun non fisik. Diharapkan Kebijakan ini dapat mereduksi dan mengeleminir hegomoni ideologi ISIS serta meningkatkan nasionalisme dan patriotisme WNI dalam menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Referensi

  1. Mahardika Satria H., Purwani Dyah P. (2015, November). Magnet Teror di Pusat Muslim Eropa. Tempo. 120-123.
  2. Purwani Dyah P. (2015,November). Molenbeek Dan Misteri Serangan Paris. Tempo. 124-125., Melawan Rasa Tak Aman (2015, November). Tempo. 126-128.
  3. Budi Yuni H. (2015,November). Mimpi Buruk di Paris. Sindoweekly. 62-65., Amuk dari yang Terpinggirkan. Sindoweekly. 66-67
  4. NIK., NTA., IAN., RAY.,ISW., AFP. (2015, 16 November). Pelaku terbagi atas Tiga Tim. Kompas : 15
  5. Bayu Samuel. (2015). Serangan Paris, Google dan Facebook Aktifkan “Safety Check”. Diakses November 25, 2015 dari http://www.tren.co.id/5243/serangan-paris-google-dan-facebook-aktifkan-safety-check.html
  6. Jery. (2015). PS4 Diduga Jadi Alat Komunikasi Teroris Pada Serangan Paris. Diakses November 25, 2015 dari http://www.jberita.com/271980/ps4-diduga-jadi-alat-komunikasi-teroris-pada-serangan-paris/
  7. Pandasurya Wijaya. (2015). Intelijen Israel Akui Tahu Skenario Serangan Paris. Diakses November 19, 2015 dari http://www.merdeka.com/dunia/intelijen-israel-akui-tahu-skenario-serangan-paris.