Implikasi Geopolitik dan Strategis Dari Peningkatan Pengaruh China di Asia Tengah

Rabu, 22 November 2023

Hery Yuniarto, S.E., M.Si(Han)

Analis Pertahanan Negara Madya

1. Latar belakang

Wilayah Asia tengah berada ditengah–tengah antara benua Eropa dan Asia sehingga Asia tengah menjadi penting dan strategis sebagai jalur vital yang menghubungkan Eropa dan Asia. Faktor ekonomi, dimana Asia tengah mempunyai tiga keuntungan besar yakni keuntungan sumberdaya alam, pasar dan keuntungan sebagai jembatan penghubung. Dari segi sumberdaya, Asia tengah sangat kaya akan minyak bumi dan gas alam.

Negara-negara Asia tengah adalah merupakan pecahan dari Uni Sovyet yang melepaskan diri dan memerdekakan diri menjadi Negara-negara republik seperti Kazakhstan, Turkmenistan, Kyrgistan, Uzbekistan dan Tajikistan, Negara-negara tersebut dikenal sebagai Central Asian State.

Asia tengah akan selalu menjadi kawasan yang sangat penting di dunia, dan terdapat beberapa faktor yang menjadikan Asia tengah sebagai wilayah strategis bagi Negara-negara di dunia yakni faktor geopolitik, ekonomi, budaya dan agama. Ketika kelima Negara merdeka dan secara geopolitik menjadi “new continent”, dimana saat itu Rusia sebagai penjamin stabilitas dan keamanan kawasa Asia tengah, terbelengu krisis ekonomi sehingga pengaruh atas wilayah tersebut berkurang sehingga terjadi kekosongan kekuasaan selama beberapa periode dan mengundang kekuatan asing yang berkepentingan di wilayah tersebut untuk menanamkan pengaruhnya.

Masuknya China menanamkan pengaruhnya di Asia tengah untuk mengisi kekosongan yang ditinggalkan oleh kekuatan Rusia yang berkurang dilatar belakangi oleh kepentingan China terhadap Stabilitas dan keamanan wilayah perbatasan barat China terhadap pemberontakan etnis Uygur di provinsi Xinjiang juga kepentingan keamanan energy dimana kebutuhan energi China terhadap minyak dan gas semakin tinggi akibat peningkatan industry dan ekonominya. Melalui pendekatan Smart Power China masuk ke asia tengah menanamkan pengaruhnya melalui kerja sama keamanan dan ekonomi yang semakin kokoh.

2. Kondisi kawasan Asia tengah

Kawasan ini merupakan wilayah yang sangat strategis baik secara demografi, geopolitik maupun ekonomi. berbagai negara, terutama negara Rusia dan Amerika Serikat yang telah menanamkan pengaruhnya lebih dahulu, selain itu juga beberapa Negara Eropa, Turki dan China yang terlibat dalam penanaman pengaruhnya di Kawasan Asia tengah.

Kepentingan strategis Rusia sering dikaitkan dengan pilar-pilar yang telah dibangunnya di republik-republik itu pada masa Uni Soviet dahulu. Di antara pilar-pilar terpentingnya adalah perubahan demografi di era Uni Soviet, khususnya di republik Asia Tengah; dimana terjadi migrasi politik penduduk dari Rusia ke kawasan Asia Tengah untuk mengokohkan kekuasaan Rusia di masa itu. Hingga sekarang masalah demografi ini sering dijadikan alasan Rusia untuk mempertahankan pengaruhnya.

Di samping itu, pangkalan Rusia yang tersebar di Republik itu dan tidak ditarik sama sekali. Bahkan sebagian tetap ada di republik-republik Asia Tengah. Pangkalan-pangkalan itu merupakan pusat pengaruh dan langkah-langkah terdepan bagi Rusia. Wilayah Asia Tengah juga merupakan daerah percobaan nuklir dan rudal yang berlangsung di republik-republik itu, khususnya Kazakhstan, karena wilayahnya yang luas. Adapun Kazakhstan sangat penting bagi Rusia untuk melakukan percobaan nuklir di sana. Rusia sudah melakukan percobaan nuklir di kawasan Semipalatinsk Kazakhstan sebanyak 500 kali. Setelah itu Presiden Kazakhstan Nursultan Nazarbayev (29/8/ 2009) telah menutup area percobaan nuklir dengan menandatangani penutupan area percobaan tersebut. Kazakhstan menandatangani larangan percobaan nuklir pada 24 September 2009. Terdapat hubungan ekonomi Rusia dengan negara-negara itu seperti jaringan pipa minyak dan gas.

Bubarnya Uni Soviet menjadi kesempatan emas yang tidak akan diabaikan oleh Amerika. Asia Tengah posisinya berdampingan dengan Rusia. Lebih dari itu, kawasan Asia Tengah juga bersentuhan secara luas dengan China. Kawasan Asia Tengah juga berbatasan dengan daerah-daerah konflik seperti Afganistan, Pakistan dan India yang berkaitan langsung dengan Amerika Serikat. Kyrgistan, misalnya, memiliki perbatasan dengan China yang panjangnya mencapai sekitar 585 km. Jika Amerika berhasil menciptakan kerja sama dengan Kyrgistan, maka Amerika akan bisa mengawasi perbatasan China secara intens.

Kyrgistan sangat penting bagi Amerika untuk membendung pengaruh China di kawasan itu seluruhnya. Pangkalan udara Amerika di Manas merupakan markas utama dalam perang Amerika terhadap kaum Muslim di Afganistan sejak tahun 2001 hingga hari ini. Terdapat lebih dari 1000 personel tentara Amerika di Pangkalan itu. Semua yang berlangsung di Pangkalan Udara Manas diketahui oleh Pemerintah Kyrgistan.

Kepentingan ekonomi juga menjadi hal yang sangat strategis. Beberapa kawasan di Asia Tengah menjadi rebutan karena kekayaan alamnya. Pada Mei 2007 ditandatangani perjanjian Rusia dengan Turkmenistan dan Kazakhstan untuk membangun jaringan pipa baru untuk menjamin kelangsungan suplai gas dari Asia Tengah di bawah kendali perusahaan Rusia, Gazprom. Hal ini untuk memonopoli ekspor sebagian besar gas dari Turkmenistan.

China tidak tinggal diam, Presiden China Hu Jin Tao telah berkunjung ke Turkmenistan pada April 2006. Presiden China pada waktu itu berjanji akan membeli 30 miliar meter kubik gas pertahun dari Turkmenistan. China juga membangun jaringan pipa gas dari sungai Amudariya di timur Turkmenistan hingga mencapai China. Pada tanggal 30 Agustus 2009 China mengumumkan akan mengembangkan tambang gas di Turkmenistan lewat Petrochina dengan nilai 3 miliar dolar. Total produksi Turkmenistan berupa gas pada tahun 2006 mencapai 62,2 miliar meter kubik pertahun. Angka itu akan dinaikkan sampai mencapai 120 miliar meter kubik pada tahun 2010.

Berkaitan dengan Amerika, sebagian suplai minyak untuk logistik perang di Afganistan datang dari Turkmenistan. Terdapat jaringan pipa gas “Trans Afganistan” yang terbentang dari Turkimenistan ke Afganistan yang mengalirkan sekitar satu miliar meter kubik gas pertahun ke sana. Dengan demikian, Turkmenistan dari aspek ini juga menjadi penting bagi Amerika. Tujuannya untuk menguasai seluruh sumur minyak dan gas di Turkmenistan bahkan di seluruh dunia untuk mengontrolnya dan mempertahankan hegemoninya.

Amerika berupaya memperkuat hubungannya dengan Kazakhstan karena pentingnya posisi geostrategis Kazakhstan dan karena kaya akan minyak dan gas. Di Kazakhstan terkandung minyak yang mencapai 100 miliar barel. Saat ini Kazakhstan memproduksi lebih dari satu juta barel minyak perhari. Kazakhstan tengah menunggu untuk bisa menaikkan produksi minyaknya pada tahun 2015 menjadi sekitar 2,5 juta barel perhari. Di Kazakhstan juga terkandung kekayaan gas yang mencapai sekitar 150 triliun meter kubik. Presiden Kazakhstan memberikan keistimewaan kepada perusahaan-perusahaan Amerika untuk menanamkan investasi dalam bidang perminyakan dan gas serta bidang lainnya. Dengan demikian, perusahaan-perushaan Amerika menjadi investor utama dalam industri minyak dan gas di Kazakhstan. Kazakhstan mengizinkan Amerika mengangkut suplai logistiknya melalui wilayah Kazakhstan, juga setuju untuk mendukung pasukan Amerika dan NATO yang memerangi kaum Muslim di Afganistan.

Kazakhstan memiliki perbatasan yang panjang dengan Rusia yang panjangnya mencapai lebih kurang 6846 km. Karena itu, Kazakhtsan penting bagi Amerika dari aspek strategi dan ekonomi. Kazakhstan berafiliasi dalam kerjasama dengan NATO demi perdamaian. Kazakhstan bisa dinilai sebagai sekutu terbesar bagi Amerika Serikat di Asia Tengah. Di samping itu, Kazakhstan adalah negara yang berbatasan langsung dengan Laut Kaspia dimana Laut Kaspia juga mengandung cadangan minyak yang sangat besar mencapai kurang lebih 200 miliar barel dan cadangan gas sebesar kurang lebih 600 triliun meter kubik. Permainan Amerika dan semua negara barat sampai di laut Kaspia.yang mana laut Kaspia merupakan laut tertutup dan merupakan kawasan strategis dan ekonomis karena kekayaan minyak dan gasnya.

3. Kepentingan China di Asia tengah

Setelah runtuhnya Uni Sovyet, pemerintah China sangat perhatian kepada wilayah perbatasan barat China dengan kawasan Republik di Asia tengah. Pada bulan Agustus 1991, wakil President China, Wang Zhen menginstruksikan Tentara Pembebasan Rakyat PLA ( People Liberation Army ) di Xinjiang untuk membentuk” tembok baja untuk menjaga sosialisme dan penyatuan ibu pertiwi”. Jelas kemudian, pada awal 1990-an menjaga stabilitas di Xinjiang dan menyelesaikan perbatasan dengan Rusia dan Republik-republik di Asia tengah berada di puncak agenda China. Selanjutnya masalah energy, menghidupkan kembali perdagangan “silk route” dan berurusan dengan ancaman dari terorisme Internasional, ekstrimisme agama dan perdagangan narkoba menjadi faktor penting dalam perhitungan strategis China.

Bagi China kawasan Asia tengah merupakan jalur sutera yang sejak beribu abad yang lalu sudah menjadi jalur perdagangan ekonomi tradisional China dan sampai sekarang diera China modern pun kawasan ini masih merupakan jalur perdagangan yang penting seperti bagaimana China memiliki jalur jalan tol di Kyrgistan yang langsung menuju berbagai akses perdagangan penting di kawasan tersebut.

China juga memiliki kepentingan keamanan yang besar dikawasan ini yang merupakan perbatasan langsung dengan bagian barat China, bahkan Provinsi Qinghai,wilayah otonomi xinjiang dan Tibet merupakan kawasan berpenduduk Uyghur, Turk yang merupakan etnis utama Asia tengah. Uyghur yang muslim tinggal di Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan memiliki ikatan yang kuat dengan Uyghur di provinsi Xinjiang China. Pemerintah China mengkhawatirkan populernya dukungan untuk “Turkistan Timur” di Xinjiang dari etnis Uyghur yang hidup di Kazakhstan, Republik Kirgistan dan Tajikistan. Setelah runtuhnya Uni Soviet dan berikutnya memunculkan kemerdekaan dan kedaulatan negara-negara di kawasan Asia Tengah, Uyghur yang tinggal di dalam dan luar Xinjiang telah terinspirasi untuk membentuk Negara independen “Turkistan Timur.” Perjuangan untuk kemerdekaan telah berlangsung sejak 1949 ketika negara Muslim Turkistan Timur dimasukkan ke dalam China. Saat ini, Uyghur berusaha untuk memperoleh dukungan yang cenderung mengarah ke Republik Asia Tengah untuk mendukung perjuangan mereka. Upaya untuk memenuhi aspirasi mereka telah memicu kekhawatiran timbulnya potensi perpecahan di wilayah Xinjiang yang terus bergolak. China bertujuan untuk menetralkan etnis muslim Uyghur dengan pencarian dukungan dari republik-republik di Asia Tengah.

Pencarian untuk keamanan energi juga mengubah China dalam hal keterlibatannya di Asia Tengah. Tanda-tanda krisis energi sekarang ini dialami oleh China. Sejumlah industri dalam beberapa tahun terakhir mulai mengeluhkan sulitnya mendapatkan pasokan energy. Oleh karena itu, dengan kesadaran penuh, sejak awal Pemerintah China mendesain kebijakan ketahanan energi (energy security) yang cenderung agresif dan defensif. Sikap sensitif China menyangkut energy security juga dilatari pengalaman buruk krisis energi besar di masa lalu akibat terlalu bergantung pada tenaga ahli dari Uni Soviet dalam pembangunan sektor energinya.

Lapangan-lapangan minyak besar di China bagian selatan, yang menyumbang sekitar 90 persen produksi, saat ini telah mencapai puncak produksi dan mulai menurun. Upaya mengembangkan cadangan baru di lepas pantai dan di daerah lain juga mengecewakan. China menjadi importir neto minyak sejak November 1993. Untuk menutup kekurangan pasokan dalam negeri, China selama ini mengandalkan negara-negara Timur Tengah (Timteng). Dari total konsumsi minyak mentah nasional sebesar 200 juta ton tahun 2000, sekitar 70 juta ton harus ditutup dari impor. Dari 70 juta ton minyak mentah ini, lebih dari 50 juta ton di antaranya berasal dari Timur tengah. Ketergantungan yang semakin meningkat pada minyak impor dan terus bergejolaknya politik di Timteng mendorong China berusaha mencari alternatif sumber pasokan lain.

Permintaan China untuk minyak impor diproyeksikan meningkat dari persyaratan kini 60 juta ton untuk 250 – 300 juta ton per tahun pada tahun 2020, dan China ingin mengurangi ketergantungan minyak pada Timur Tengah. Alasannya Jika konflik meletus di atas Taiwan, jalur suplai minyak saat ini akan terkena dampak yang serius. Oleh karena itu, partisipasi dalam proyek-proyek pengembangan energi di Republik Asia Tengah adalah bagian penting dari strategi energi China.

Untuk tujuan ini, Pemerintah China membentuk tiga BUMN minyak skala besar pada dekade 1980-an. Pertama, The China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) yang didirikan tahun 1982 untuk menangani bisnis minyak China di lepas pantai.Kedua, The China National Petrochemical Corporation (Sinopec) yang didirikan tahun 1983 untuk menangani bisnis pengilangan dan pemasaran. Ketiga, The China National Petroleum Corporation (CNPC) yang dibentuk dari Kementerian Industri Petroleum tahun 1988, dengan tanggung jawab bisnis eksplorasi dan produksi di lapangan onshore dan wilayah-wilayah lepas pantai yang tidak terlalu dalam. Pada Juni 1997 CNPC mengakuisisi 60 persen saham milik Aktyubinskmunaigaz Production Association yang memegang kendali atas tiga lapangan minyak besar di barat laut Kazakhstan, dengan kombinasi cadangan minyak yang bisa diangkat sebesar 1 miliar barrel.

China diwakili CNPC dan Kazakhstan juga merencanakan membangun jaringan pipa sepanjang 1.800 mil, yang akan mengalirkan minyak dari lapangan minyak Aktyubinsk ke wilayah barat China. Pada 1 September 1997 CNPC kembali mengalahkan Petronas, Unocal, dan Amoco dalam tender lapangan minyak Uzen yang merupakan lapangan minyak kedua terbesar di Kazakhstan, dengan cadangan 1,5 miliar barrel dan investasi 1,3 miliar – 4,38 miliar AS dollar.

Dari Uzen, CNPC juga merencanakan membangun jaringan pipa yang akan mengalirkan minyak dari Uzen ke Aktyubinsk. Selain jaringan pipa untuk menyalurkan minyak dari Kazakhstan ke China, CNPC juga menyepakati rencana pembangunan jaringan pipa untuk memasok minyak dari Rusia ke China. Jaringan pipa sepanjang 2.400 kilometer ini akan menyalurkan minyak dari Angarsk di Siberia ke China. Jaringan pipa transnasional dari Kazakhstan dan Rusia ini akan menjadi bagian dari impian China membangun jaringan pipa minyak Pan-Asia (Pan-Asian Continental Oil Bridge).

 

4. Instrumen yang dipakai China untuk memperkuat kehadiran di asia tengah.

China telah mengambil inisiatif utama dalam rangka untuk mengamankan kepentingan geopolitik dan geoekonominya. Dengan menggunakan instrumen penyelesaian perselisihan perbatasan , pengurangan pasukan militer di daerah perbatasan, memperdalam kepercayaan militer, bertetangga yang baik, perjanjian kerjasama persahabatan, dan inisiatif Shanghai Lima, sebuah pengelompokan membangun kepercayaan dengan Kazakhstan, Kyrgyzstan dan Tajikistan ditujukan untuk menciptakan Zona stabilitas kawasan Asia tengah, kelompok ini diarahkan untuk mengisi kekosongan kekuasaan yang telah muncul dengan pecahnya Uni Soviet dan melemahnya posisi Rusia terhadap perluasan NATO.

Organisasi Shanghai Lima berdiri tahun 1996 dan pertama kali dianggotai oleh China, Rusia, Kazakstan, Kyrgyzstan, dan Tajikistan yang kemudian terjadi peningkatan yang lebih formal menjadi Organisasi Kerjasama Shanghai/Shanghai Cooperation Organisation (SCO) pada tahun 2001 dimana Uzbekistan ikut bergabung karena prihatin dengan meningkatnya ketidak stabilan dan terorisme di wilayah tersebut. Tujuan didirikannya SCO adalah memperkuat rasa saling percaya di antara negara-negara anggota, membangun kerjasama yang efektif di bidang politik, ekonomi, dan perdagangan, serta ilmu pengetahuan dan teknologi. Kekuatan ekonomi China bisa disebut sebagai motor Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) ini.

5. Investasi China di Asia tengah

China telah menginvestasikan sejumlah besar uang dalam patungan bersama dengan perusahaan-perusahaan minyak dan gas Negara- Negara di Asia tengah seperti Petro Kazakhstan, Turkmen Neftegas dan Neftegas Uzbekistan. China bekerja pada jaringan baru pipa gas dan minyak yang menghubungkan asia tengah dengan jaringan pipa Xinjiang.

Juga berlangsung proyek untuk jaringan jalan dan jalur rel yang menghubungkan wilayah barat China dengan Rusia, Eropa dan Asia Barat. Penandatanganan Perjanjian mengenai pembangunan pipa gas dari Turkmenistan ke China pada tanggal 3 April 2006. dimana China akan membeli 30 miliar meter kubik gas alam setiap tahun dari Turkmenistan di perbatasan Turkmenistan lebih dari 30 tahun, terhitung sejak tanggal beroperasinya pipa gas Turkmenistan-Cina yang mulai beroperasi di tahun 2009. sekaligus menandatangani kesepakatan tentang proyek pipa yang akan membawa pasokan gas dari Turkmenistan ke China melalui Uzbekistan.

Selain itu, China membangun jaringan rel kereta api yang menghubungkan Uzbekistan dan provinsi Xinjiang melalui Kyrgyzstan. China juga terlibat dalam pengembangan fasilitas infrastruktur kawasan wilayah. membangun jalan raya di Tajikistan, dan membangun stasiun PLTA di Kazakhstan. mengalokasikan $ 50 juta pinjaman untuk memperbaiki sistem irigasi di republik Uzbekistan, China juga telah menawarkan untuk menghubungkan semua enam Negara anggota SCO melalui jaringan serat optik pada tahun 2010 untuk meningkatkan komunikasi.

6. Implikasi geopolitik dan strategis.

Sejak deklarasi kemerdekaan negara negara Asia Tengah pada tahun1991, China secara bertahap memposisikan dirinya sebagai salah satu negara yang mempunyai peranan penting di kawasan tersebut. Hal ini menunjukkan suatu perubahan geo politik setelah runtuhnya Uni Soviet dan merupakan konsolidasi akan adanya kekuatan baru China. Negara negara Asia Tengah secara politik saat ini mempunyai peranan yang penting terlebih karena adanya kekayaan akan energi yang dihasilkan serta adanya pengaruh besar dua negara tetangganya yaitu, China dan Rusia. Implikasi China di Asia Tengah mempunyai pengaruh yang besar untuk jangka panjang dimana hubungan ini juga mempengaruhi rejim- rejim yang ada di kawasan tersebut. Sehingga langkah strategi China di Asia Tengah merupakan hal yang penting. Saat ini China telah mencoba membangun jaringan pemberantasan penjualan obat dan senjata transnasional di kawasan itu. Di saat yang bersamaan China juga mendukung adanya perlawanan gerakan terorisme agama yang di curigai beranggotakan kaum separatisme Uygur di Xinjiang, China dan kaum oposisi di Asia Tengah. China juga mendukung usaha penolakan negara Negara Asia Tengah akan usaha pembentukan demokrasi yang diusulkan pihak Barat di kawasan Asia Tengah.

Dibidang ekonomi, China juga memanfaatkan posisi Negara- negara Asia Tengah yaitu, sebagai Negara landlocked yang merupakan kawasan yang sangat menjanjikan secara ekonomi bagi China maupun Asia Tengah. Hal ini tidak dapat dipisahkan pula dengan keberadaan sumber sumber energi di Asia Tengah yang dibutuhkan China untuk mengantisipasi pertumbuhan ekonomi dan kebutuhan permintaan energi dalam negeri China. China melihat Asia Tengah tidak hanya sebagai negara yang berbatasan langsung tetapi juga merupakan wilayah transit yang dapat memfasilitasi perdagangan dengan negara negara seperti Iran- Afghanistan, India serta Pakistan. Selain itu, China juga menggunakan organisasi regional Shanghai Cooperation Organisation (SCO) sebagai zona perdagangan bebas guna memudahkan penyaluran produk-produk China di pasar Asia Tengah dan Rusia. China juga berusaha menanamkan pengaruh pengaruh kebudayaan China yang diharapkan dapat berkembang di Asia Tengah.

7. Kesimpulan

Negara-negara di Asia tengah merupakan pecahan dari Uni Sovyet yang melepaskan diri dan memerdekakan diri menjadi Negara-negara Republik seperti Kazakhstan, Turkmenistan, Kyrgistan, Uzbekistan dan Tajikistan, Negara-negara tersebut dikenal sebagai Central Asian State.

Semenjak runtuhnya Uni Sovyet dan vacumnya kekuasaan di Asi tengah, China berusaha masuk dan membentuk kerjasama regional di kawasan asia tengah, hal ini tidak terlepas Adanya kepentingan China terhadap Negara kawasan asia tengah ini yaitu ingin membuka kembali jalur perdagangan melalui asia tengah untuk memasarkan produk-produk China, menjaga stabilitas keamanan di provinsi Xinjiang yang berpenduduk Uygur yang ingin lepas dari China, melalui kerjasama keamanan dengan Negara-negara republic di Asia tengah, serta kepentingan keamanan energy China dimana peningkatan kebutuhan China terhadap minyak dan gas semakin tinggi akibat peningkatan Industri dan ekonominya.

China telah mengambil inisiatif utama dalam rangka untuk mengamankan
kepentingan geopolitik dan geoekonomi. Dengan membentuk kerja sama Shanghai Lima inisiatif yang kemudian menjadi Organisasi Kerjasama Shanghai.
Pembentukan Shanghai Cooperation Organisation (SCO) merupakan langkah bagi terciptanya hubungan kerjasama antar Negara-negara Asia tengah dengan China dan Rusia, meluasnya kerja sama dari yang awalnya berfokus pada kerja sama keamanan dan politik kemudian meluas menjadi kerja sama perdagangan, investasi sampai kerja sama energy merupakan perkembangan yang positif menuju terbentuknya regionalisme di Asia tengah, karenanya SCO telah berhasil menjadi suatu fondasi dasar bagi kemunculan regionalisme Asia tengah dimasa depan.

Daftar Pustaka

-Jenny clegg, China’s Global Strategy, 2009,Pluto Press WWW.plutobooks.com

-Ramakant Dwivedi, China’s Central Asia Policy in Recent Times, China and Eurasia forum quarterly volume 4, no.4(2006) P. 139. 159

-http ://hiztbut-tahrir.or.id./2010/05/02/pergolakan di asia tengah




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia