BEKERJA IDENTIK RIZKI HALAL DAN BAROKAH

Kamis, 17 April 2014

fbb6efdcb93c2d8145bd822114fc0cac.jpg

Mulai bulan Juni 2012 yang lalu pembinaan rohani agama Islam di Ditjen Renhan dilaksanakan dengan didahului Shalat Dhuha bersama. Diharapkan hal ini menjadi pembiasaan positif di tengah kesibukan melaksanakan aktifitas sehari-hari. ”Semula menjadi kebiasaan di kantor, maka suatu saat menjadi kebiasan di rumah. Semula kita hanya melaksanakan sebulan sekali, Insya Allah secara bertahap akan menjadi kebiasaan rutin sehari-hari”, demikian Dirjen Renhan Kemhan dalam sambutan tertulisnya yang dibacakan oleh Dirrenbanghan, Marsma TNI Supriyanto Basuki, M.Sc.

 

Jika saat ini dilaksanakan hanya dua rakaat, pesan Dirjen, maka selanjutnya akan terbiasa lebih dari dua rakaat. Jika saat ini hanya kita sendiri yang mengerjakan, maka di kemudian hari anggota keluarga pun akan mengikutinya. Pembiasaan inilah yang pada akhirnya membias dalam kehidupan sehari-hari, baik di lingkungan tugas, keluarga maupun masyarakat. Keberadaan kita dikelilingi oleh orang-orang yang senantiasa ingin dekat kepada Allah Swt, pungkasnya.

 

Pembinaan rohani Islam yang menghadirkan ustadz Drs. H. Sjafruddin Tanjung, M.Pd.I, dalam ceramahnya menyinggung betapa pentingnya penyegaran rohani seperti hari ini. Didahului shalat Dhuha yang berarti ikhtiar untuk mensinergikan antara kegiatan fisik-jasmaniyah dengan mental-rohaniyah. Melaksanakan tugas-tugas kedinasan yang bersifat lahiriyah namun dibingkai dengan niat ibadah. Inilah yang di kemudian hari akan menghasilkan dua nilai : yaitu duniawi dan ukhrawi. Nilai duniawi-jasmaniyah berupa materi yang halal dan barokah serta nilai rohani berupa taushiyah atau pesan-pesan moral keagamaan.

 

”Saat ini kita diingatkan dengan datangnya bulan suci Ramadhan. Itu artinya, kita memperhatikan pentingnya waktu satu tahun yang berlalu begitu cepat. Waktu yang ada dan berikan oleh Sang Pencipta bagi semua makhluk adalah sama, yakni 24 jam. Dalam kurun waktu tersebut bagi yang tidak pandai mengelola tentu sangat fatal akibatnya, baik di dunia maupun di akhirat. Keteledoran mengelola waktu adalah pangkal kerugian, sedangkan kemahiran memenejnya adalah keberuntungan yang besar”, demikian ustadz menguraikan.

Admin




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia