Kedatangan Tank Leopard Untuk Memenuhi Kebutuhan Pokok Minimum

Rabu, 9 Juli 2014

Sebanyak 26 unit Tank Leopard dan 26 unit Tank Marder akan tiba di Indonesia pada minggu pertama September 2014. Pengiriman tersebut merupakan pengiriman gelombang pertama dari 130 unit Tank Leopard dan 50 unit Tank Marder yang dibeli Kementerian Pertahanan berdasarkan kontrak pengadaan nomor TRAK/1198/PLN/XII/2012/AD antara Kementerian Pertahanan dengan Rheinmetall, Jerman. Upacara pengiriman dilakukan Senin, 23 Juni 2014 di Unterluss, Jerman yang dihadiri Wakil Menteri Pertahanan, Sjafrie Sjamsoeddin

Kehadiran tank Leopard merupakan salah satu bagian dari penguatan postur pertahanan Indonesia yang digariskan untuk membangun kekuatan pokok minimum (Minimum Essential Force/MEF) TNI dengan daya pukul dahsyat, daya gentar (deterent effect) besar, dan mobilitas tinggi. Wamenhan mengatakan “Apabila penguatan Angkatan Udara dengan pengadaan pesawat F-16 dan Sukhoi, Angkatan Laut dengan pengadaan kapal selam dan kapal perusak, maka Angkatan Darat dengan pengadaan tank Leopard. Kita memang tidak bermaksud untuk berperang, tetapi kita harus bersiap untuk menghadapi keadaan yang tidak diinginkan”.

Dalam pengadaan tank Leopard terselip muatan alih teknologi. Rheinmetall setuju untuk melakukan kerja sama pembuatan amunisi dengan PT. Pindad. Dengan cara tersebut, dalam waktu dekat kebutuhan amunisi bagi tank Leopard sudah dibuat di PT. Pindad. Kedepan diharapkan tidak hanya kebutuhan tank Leopard TNI AD yang bakal dipasok PT. Pindad melainkan juga kebutuhan untuk negara-negara di kawasan. Pihak Rheinmetall antusias menjadikan PT. Pindad sebagai basis produksi dari Rheinmetall untuk kebutuhan alutsista di kawasan Asia Tenggara.

Terkait dengan konsep MEF, Kemhan dan Bappenas telah membahas untuk merealisasikannya dalam tiga tahap.  Tahap pertama dilakukan pada 2010 hingga 2014. Tahap kedua pada 2015-2019, kemudian tahap ketiga 2020 sampai dengan 2025. Pada tahap pertama, Indonesia akan mendapat tambahan skadron pesawat tempur strategis, pesawat angkut berat dan sedang. Kemudian Angkatan Laut akan mendapat tambahan kapal perang atas air dan bawah air (kapal selam), serta kapal patroli cepat. Kemampuan Angkatan Darat memilki lebih dari 100 tank berat dan puluhan infantry fighting vehicle serta sekitar 200 panser Anoa yang akan tersebar di wilayah Indonesia serta heli serang taktis.

Pada periode kedua, diharapkan ada peningkatan kemampuan industri pertahanan dalam negeri dalam melakukan kerja sama produksi dengan negara lain. Dari berbagai kerja sama yang dilakukan diharapkan bisa dihasilkan produk-produk persenjataan baru, yang bisa semakin memperkuat alutsista TNI. Sebagai contoh, dengan Korea Selatan, disepakati pengembangan untuk pesawat KFX dan pembangunan kapal selam. Selanjutnya, pada periode ketiga, mengarah pada pembentukan kekuatan ideal. Pada periode ini kemampuan industri terus berkembang dan kerja sama yang dilakukan dengan negara lain ditujukan kepada alutsista yang lebih maju dan tinggi teknologinya.

Sumber Berita: Majalah Gatra Edisi 25 Juni – 2 Juli 2014




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia