Dirkersinhan Ditjen Strahan Kemhan Hadiri Pertemuan The Libration of Marawi, AFP Experience Sharing With TNI

Selasa, 6 April 2021

Jakarta – Direktur Kerjasama Internasional Pertahanan Direktorat Jenderal Strategi Pertahanan Kementerian Pertahanan Republik Indonesia (Dirkersinhan Ditjen Strahan Kemhan RI) Brigjen TNI J. Binsar Parluhutan Sianipar, menghadiri pertemuan The Libration of Marawi, Armed Forces of The Philippines (AFP) Experience Sharing With TNI, Selasa (6/4) di Jakarta.

Acara sharing pengalaman AFP kepada TNI terkait Operasi Marawi 2017 tersebut dilaksanakan secara virtual dan merupakan bagian dari kerjasama antara AFP dan TNI dalam payung kerjasama ADMM Military to Military Sharing Experience.

Kegiatan ini merupakan hasil tindak lanjut dari pembicaraan Menhan RI dengan Menhan Filipina guna semakin meningkatkan kerjasama militer antara kedua negara dan meningkatkan kemampuan dan keterampilan Prajurit TNI dalam menghadapi perang kota.

Acara tersebut menghadirkan pemapar dari Filipina antara lain; Let Gen (Ret) Ramiro Manuel A. Rey dan Let Gen (Ret) Danilo G Pamonag yang berpengalaman dalam memimpin upaya penanganan kelompok bersenjata The Liberation of Marawi serta dihadiri perwakilan pejabat di lingkungan Satuan Tempur TNI dari masing – masing Angkatan.

Asisten Operasi (Asops) Panglima TNI Mayjen Arios Tiopan Aritonang dalam sambutan tertulisnya yang dalam kesempatan tersebut dibacakan oleh Wakil Asops Panglima TNI Marsma TNI Kustono selaku Ketua Delegasi Indonesia menyampaikan, meskipun pertemuan ini diselenggarakan secara virtual, namun tidak akan mengurangi kualitas interaksi kedua belah pihak untuk berkomunikasi satu sama lain guna memelihara dan meningkatkan kerjasama bilateral.

Secara geografis, Indonesia dan Filipina merupakan dua negara bertetangga yang memiliki banyak kesamaan dan memiliki perbatasan laut yang panjang, serta memiliki hubungan kerjasama bilateral yang sudah terjalin sejak lama. Selain itu, kedua negara juga memiliki banyak kesamaan dan pandangan dalam menanggapi permasalahan – permasalahan yang ada baik regional maupun internasional.

Lebih lanjut disampaikan Asops Panglima TNI bahwa The Libration of Marawi telah dikenal dengan sangat baik di seluruh dunia sebagai suatu kesuksesan besar dari Pemerintah Filipina dalam menghadapi aktifitas teroris yang terorganisir.

Menurutnya, keberhasilan dalam proses pembebasan kota Marawi ini telah memberikan kontribusi yang positif bagi keamanan regional dan dapat menjadi pelajaran yang berharga bagi TNI dalam mengantisipasi peristiwa-peristiwa serupa di Indonesia.

“Perwira dari Satuan Tempur TNI Angkatan Darat, Laut, dan Udara sangat antusias untuk menerima penjelasan dan akan mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk belajar pengalaman militer pasukan AFP selama operasi pembebasan Marawi tahun 2017”, ungkapnya.

Sementara itu, AFP Deputy Chief of Staff for Operations, J3 Maj Gen Edgardo Yao De Leon selalu Ketua Delegasi Filipina menyampaikan, menyambut baik inisiatif dari TNI yang berkeinginan untuk mendapatkan informasi dari pengalaman AFP atas keberhasilan kami dalam operasi Marawi 2017. Inisiatif ini merefleksikan kerjasama untuk meneruskan komitmen bersama untuk memerangi terorisme dalam transnational crimes di kawasan.

Lebih lanjut ditegaskannya bahwa melawan terorisme, tidak hanya menjadi konsen suatu negara saja, tetapi juga memerlukan kerjasama secara global dan regional. “Kita perlu untuk berbagi pengalaman untuk mengembangkan kemampuan kita dan meningkatkan kemampuan secara teknis kita dalam hal interoperabilitas. Hal ini hanya merupakan bagian awal kita dan kita dapat terus meneruskan kerjasama secara terus menerus”, tambahnya.

Sebagai kesimpulan penutup acara tersebut, dipahami bahwa Filipina telah mendapatkan pelajaran yang sangat berharga saat mengatasi kekerasan kelompok bersenjata Marawi. Dalam koridor ADMM, komunitas negara-negara ASEAN perlu untuk bersatu bekerjasama agar peristiwa yang sama tidak terjadi lagi di kota manapun di negara-negara ASEAN.

Negara-negara ASEAN perlu memperluas kerjasama antara masing-masing anggota dan negara-negara lain untuk mencegah dan melawan kekerasan kelompok bersenjata. Hal ini dapat dilaksanakan dengan antara lain; saling tukar informasi intelijen, meningkatkan keamanan siber, Combined Training Exercise dan SMEE, menahan pembiayaan luar negeri dari kelompok bersenjata ini, serta meningkatkan pengaturan lintas batas antar negara. (Biro Humas Setjen Kemhan)




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia