Preman Dulu Suka Duel, Kini Hobi Bentrok

Senin, 12 Maret 2012

Jakarta Rumah di Jalan Masjid I Karet Tengsin, Tanah Abang, Jakarta Pusat, terlihat gelap. Lampu depan rumah itu tidak menyala. Namun siapa sangka di balik gelap itu ada puluhan orang bersiaga.

Rumah itu adalah markas Daud Kei, tokoh preman asal Pulau Kei, Maluku. Saat majalah detik memasuki rumah berpagar besi setinggi 1,5 meter itu, ada sekitar 60 orang yang sebagian besar dari Ambon berkumpul di dalamnya. Sebagian sedang tidur-tiduran.

Rumah di belakang apartemen Menara Batavia itu dijadikan markas kelompok Daud Kei sejak 2011. Kelompok Daud Kei merupakan sempalan dari kelompok John Kei, tokoh preman Jakarta yang ditangkap pada Jumat, 17 Februari 2012. 

Daud yang punya nama asli Ladau Tetla Geni itu mulai terjun di dunia preman sejak 1993. Saat itu ia ditugasi membebaskan lahan di Bukit Sentul, Bogor. Saat itu ia berada di bawah komando Yorrys Raweyai yang kini menjadi politisi Partai Golkar. Namun Yorrys yang kini jadi anggota Komisi I DPR enggan dimintai tanggapan soal Daud ataupun premanisme. “Saya nggak komentar soal itu, yang lain saja ya,” kata Yorrys. 

Setelah itu, Daud keluar dari kelompok Yorrys dan menikah. Karena tuntutan ekonomi, Daud kemudian memilih terjun lagi ke dunia preman pada 1995. Kali ini ia bergabung dengan John Kei.

“Saya masuk kelompok John karena kami sama-sama berasal dari Pulau Kei. Saya kenal John di Jakarta,” ujar Daud saat ditemui majalah detik di rumahnya.

Setelah gabung di kelompok John Kei, Daud sering ditugasi mengurus penagihan dan pengamanan di lokasi rawan bentrok dengan kelompok preman lain.

Pilihan John kepada Daud bukan tanpa alasan. Selain memegang Dan VI di organisasi beladiri Federasi Olahraga Karate-Do Indonesdia (Forki), pria kelahiran 1970 ini juga dianggap pandai berdiplomasi. Apalagi kini Daud bertitel sarjana hukum dari Universitas Jayabaya. 

Daud kemudian jadi tangan kanan John. Daud pun diberi kelonggaran untuk membentuk kelompok Angkatan Muda Kei, pada 2000. Meski begitu kelompok bentukan Daud ini masih tetap berada di bawah komando John. 

Namun setahun belakangan John dan Daud pecah kongsi. Pemicunya, Daud menganggap cara John dalam menjalankan bisnis tagihan dan jaga lahan sudah kelewatan. John sangat kasar dan sering bikin perkara dengan kelompok preman lain di Jakarta dan sekitarnya. 

Dalam dunia para ‘jagoan’, perpecahan di dalam salah satu kelompok sudah merupakan hal yang lazim. Pecahan kelompok preman ini kemudian membuat kelompok baru.

*** 

Kelompok preman pertama yang ada di Jakarta adalah Prems (Preman Sadar) bentukan Edo Mempor pada 1982. Kelompok ini bermarkas di lantai 2 Pasar Senen. 

Kelompok Prems kemudian bubar saat digelar Operasi Celurit atau yang dikenal Petrus (penembakan misterius) pada 1983-1985. Saat itu mayoritas anggota Prems tewas dibunuh.

“Yang tersisa hanya tinggal beberapa orang saja,” ujar Fence yang sempat lolos dari operasi Petrus pada September 1983. 

Kata Fence, di era 1980-an dalam peta dunia jagoan di Jakarta berbeda dengan sekarang. Dahulu, meski banyak tokoh preman, tapi sangat jarang terjadi bentrokan. Bila ada sengketa antarkelompok biasanya diselesaikan dengan duel antarpimpinan geng. Tak heran kalau para tokoh preman era 1980-an rata-rata punya ilmu beladiri. Bukan sekadar mengandalkan nyali. 

Fence kemudian menyebut beberapa nama preman seangkatannya, seperti Hermai Kei Priok, Jhoni Raja Tega, Patrick Siliwangi, Jonni Sembiring, Chris Berland, Ongky Pieter, Matt Sanger, Udin Balok, Idris Beruang. Mereka, ujar Fence, rata-rata bertubuh atletis dan jago berantem. 

Memasuki tahun 1990-an banyak terjadi perubahan dalam dunia preman. Jika dahulu para preman punya penghasilan dari memalak para pedagang dan toko, serta merampok. Setelah era Petrus, para preman mengandalkan pencaharian dari jasa penagihan dan menunggu lahan sengketa. 

Duel antarjagoan pun kini tidak ada lagi, yang ada saat ini adalah tawuran antarkelompok preman jika terjadi silang sengketa.

Soal peta preman di Jakarta, saat ini kata Daud Kei, ada banyak kelompok berdasarkan kedaerahan. Misalnya, ada kelompok Timor seperti yang dipimpin Hercules yang dulu terkenal sebagai penguasa Tanah Abang. Lalu ada kelompok Flores, Kupang, Ambon, Ende, Ternate, Seram, Dobo, dan ormas-ormas.

“Kelompok-kelompok ini hidup dari biaya pengamanan parkir, tempat hiburan, perkantoran, pusat perbelanjaan, lahan sengketa, serta juru tagih,” kata Daud.

Kelompok preman tidak hanya berdasarkan kesukuan saja. Adnan Buyung Nasution misalnya memetakan preman, selain berdasarkan kesukuan, juga ada yang berdasarkan agama dan ormas.

“Acara berdakwah di tempat umum, dengan menutup jalan, sehingga mengganggu masyarakat, itu premanisme juga, berkedok agama. Juga banyak tuh, forum inilah, forum itulah, pakai nama kota, “ kata Buyung, mantan Direktur LBH yang memprotes Petrus pada era 1983-1985.

Data Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) DKI Jakarta, saat ini ada sekitar 900 – 918 ormas di Jakarta. Ormas ini terdiri dari ormas kedaerahan, ormas agama, ataupun ormas politik.

Namun berapa dari jumlah itu yang merupakan ormas preman, Kepala Bankespol DKI Jakarta Zainal tidak bisa menjelaskan. Kelompok preman yang berbalut ormas, menurut Zainal, kebanyakan adalah ormas dadakan. Ormas ini paling mudah dimanfaatkan untuk membela kepentingan tertentu sehingga mudah dibentur-benturkan dengan ormas lain. 

Yang jelas Pemprov DKI Jakarta berusaha menjaga tenggang rasa antar ormas agar tidak terjadi konflik . “Dua bulan sekali kita mengundang ormas berlatar belakang etnis, tokoh agama, kepemudaan, politik, guna ditanamkan wawasan kebangsaan,” ujar Zainal. petrus




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia