TRANSLATE

Aksi Penyelam TNI AL Pertaruhkan Nyawa Temukan Ekor AirAsia

Kamis, 8 Januari 2015

Aksi Penyelam TNI AL Pertaruhkan Nyawa Temukan Ekor AirAsia

Liputan6.com, Selat Karimata – Tim penyelam TNI Angkatan Laut siang ini menemukan ekor pesawat AirAsia QZ8501 di perairan Laut Jawa. Proses penemuan jauh dari mudah, melibatkan perjuangan tim penyelam gabungan Denjaka, Kopaska, Taifib dan Dislambair.

Komandan SAR Laut Laksamana Pertama TNI Abdul Rasid K yang bertugas sebagai komandan kapal pencarian AirAsia mengatakan, tim penyelam TNI AL hampir mempertaruhkan nyawa dalam pencarian ekor AirAsia ini.

“Tabungnya habis saat menyelam, begitu naik oksigen tabungnya nol. Saking semangatnya 2 tabung oksigen habis, harusnya disisakan,” ujar Rasyid di KRI Banda Aceh, perairan Laut Jawa, Rabu (7/1/2015).

Rasyid menjelaskan, ekor AirAsia ini berada di perairan Laut Jawa, tepatnya di koordinat 3″ 78.67 BT dan 109″ 43.70 LS. “Sementara kedalamannya di 33-34 meter dari permukaan laut,” jelas dia.

Rasyid mengatakan, ada 17 penyelam TNI AL yang dikerahkan saat pencarian ini. Dua penyelam pertama yang disebut pelopor inilah yang menemukan ekor pesawat yang mengangkut 155 penumpang dan 7 awak itu.

Menurut Rasyid, misi pencarian ini mengutamakan pencarian jenazah, bukan ekor pesawat, apalagi blackbox atau kotak hitam. “Intinya sekarang mencari jenazah, syukur-syukur menemukan blackbox,” pungkas Rasyid.

Penemuan bagian ekor dikonfirmasi Basarnas. Kesimpulan saya hari ini kita sukses mendapatkan bagian pesawat. Karena itu ekor pesawat sudah ditemukan dan confirm,” ujar Kepala Basarnas Marsekal Madya FH Bambang Sulistyo di Kantor Basarnas, Rabu (7/1/2015).

Sulistyo menjelaskan, tim pencari yang memiliki kemampuan pencarian objek bawah laut sejak malam terus melakukan pencarian. Sekitar pukul 05.00 WIB, Kapal Geosurvei melaporkan ke Basarnas terkait temuan objek di dasar laut.

“Kemudian ditemukan dengan scan sonar dimensi objek 10x5x3 meter. Lalu gambar diconfirm dengan ecosounder sekitar pukul 08.00 WIB, ” jelas dia.

Setelah itu, Robotic Otomatic Vehicle (ROV) diminta untuk terjun dan melihat dari dekat objek ke-12 yang telah ditemukan itu. Setelah di potret, ada tanda khusus yang menunjukan objek itu adalah bagian ekor pesawat.

“Pukul 10.30 WIB saya dapat gambarnya di foto. Ada tulisan ‘AX’ ada tulisan ‘Air’. Ini gambar pesawat secara utuh dapat saya pastikan ini bagian dari ekor pesawat,” tandas dia.

.
Pastikan Black Box Air Asia, TNI Turunkan 4 Penyelam

TEMPO.CO, Selat Karimata – Empat penyelam TNI Angkatan Laut terjun ke laut untuk mencari kotak hitam atau black box di ekor pesawat Air Asia QZ8501, yang hilang sejak Ahad, 28 Desember 2014. Tujuan utama penyelaman kali ini adalah mendokumentasikan ekor pesawat sekaligus memasang tali untuk mempermudah pengangkatan.

Pada pukul 10.35 WIB hari ini tim penyelam TNI AL dan surveyor berhasil menemukan ekor pesawat Air Asia QZ8501 di perairan Selat Karimata. “Jika kotak ketemu dan cukup waktu, kami langsung membawanya ke permukaan,” ujar Sersan Kepala Anjar Nur Sulistiono, salah satu penyelam, Rabu, 7 Januari 2015.

Ihwal rencana pengangkatan kotak hitam, koordinator penyelaman, Mayor Profs Dhegraft, belum bisa memastikan apakah ada black box di dalam ekor itu. Anjar menyelam bersama Kelasi Kepala Edi Susanto pada pukul 02.20 WIB hari ini. Kopral Dua Kaspidi dan Kopral Dua Pati Prakawanta kemudian menyelam setelah penyelaman Anjar dan Edi selesai.

Dalam tugas kali ini, penyelam dibekali pisau yang bisa digunakan jika sewaktu-waktu harus mengoyak ekor guna menemukan kotak hitam. Mereka juga dibekali sensor penanda bawah laut yang dipasang di pinggang. Penyelaman hanya diberi waktu maksimal 30 menit karena keterbatasan stok oksigen. Adapun di dasar laut penyelam hanya memiliki waktu 10 menit.

Arus di dasar laut sekitar lokasi penemuan ekor ini berkecepatan 2-3 knot. Dalam kondisi ini, waktu penyelaman berisiko berkurang karena penyelam harus melawan arus. Dalam penyelaman sebelumnya, Sersan Mayor Bovlen Sirait dan Sersan Kepala Oo Sudarna hanya berada di bawah air selama 17 menit. “Saat arus seperti itu, oksigen lebih cepat habis. Tadi kami hampir kehabisan napas,” ujar Anjar.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia