TRANSLATE

Menhan: 3 WNI Sandera Abu Sayyaf Dipulangkan Senin Ini

Kamis, 22 September 2016

Menhan: 3 WNI Sandera Abu Sayyaf Dipulangkan Senin Ini

Liputan6.com, Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan ?tiga WNI ABK Malaysia yang disandera Abu Sayyaf akan dipulangkan ke Indonesia Senin 19 September 2016. Ketiga WNI itu yakni Lorence Koten (34), Theodorus Kopong (42), dan Emanuel (46).

Meski begitu, Menhan belum tahu pukul berapa ketiga WNI asal Nusa Tenggara Timur (NTT) itu dibawa ke Tanah Air. Menurut dia, kepulangan mereka tergantung Kementerian Luar Negeri (Kemenlu).

Ryamizard mengatakan, proses pemulangan ketiga WNI itu juga masih menunggu satu WNI lagi yang malam ini tengah dalam proses pembebasan. “Satu lagi malam ini. Mudah-mudahan bisa bebas malam ini,” ucap Ryamizard.

Ryamizard mengatakan, pembebasan ketiga WNI itu juga berkat bantuan tentara Filipina dan kelompok separatis MNLF. Menurut dia, tentara Filipina melakukan koordinasi dengan MNLF karena MNLF mengetahui medan di wilayah markas Abu Sayyaf.

?”Dibantu MNLF, karena mereka orang sana. Jadi tentara Filipina itu banyak koordinasi dengan MNLF,” ujar Ryamizard.

Tiga WNI asal NTT menjadi korban penculikan kelompok Abu Sayyaf di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia? pada Sabtu 9 Juli 2016 lalu.

Saat itu, ketiganya bersama empat ABK Kapal LD/114/5S asal Malaysia milik Chia Tong Lim? tengah melakukan penangkapan ikan. Namun, dari tujuh ABK kapal, cuma Lorence, Theodorus, dan Emanuel saja yang diculik setelah mereka menunjukkan paspor Indonesia.

Menhan: Satu Sandera ABK di Filipina Diupayakan Pelepasannya Malam Ini

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Menteri Pertahanan, Ryamizard Ryacudu menyampaikan malam ini, masih ada satu sandera lagi yang sedang diusahakan pelepasannya.

Dia menyampaikan sebenarnya masih harus berada di Filipina, namun karena masih harus melakukan kunjungan kerja, maka dia meninggalkan upaya negosiasi tersebut.

“Satu sandera lagi sedang diupayakan pelepasannya malam ini. Tapi yang pasti tiga sudah bebas,” ujarnya saat konferensi pers di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Minggu (18/9/2016).

Dia menjelaskan ketiga nelayan yang sudah bebas tersebut bernama Emmanuel, Laurenz Koten dan Theodorus Kopong.

Ketiga sandera ABK tersebut rencananya malam ini diserahkan kepada pihak KBRI Manila dan akan dipulangkan secepatnya.

“Tiga yang sudah lepas saya sudah minta untuk dipulangkan secepatnya. Mereka juga sudah cek kesehatan dan dinyatakan sehat semua,” tambah Ryamizard.

Abu Sayyaf dilaporkan telah membebaskan tiga dari delapan sandera asal Indonesia yang mereka tahan. Pembebasan itu dilaporkan terjadi pada Sabtu malam.

Dibebaskannya tiga sandera asal Indonesia itu dibenarkan oleh juru bicara Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF), Profesor Samsula Adju. Saat ini, menurut Adju, ketiga sandera asal Indonesia sudah bersama Nur Misuari.

Pembebasan ketiga sandera asal Indonesia itu berlangsung tidak lama setelah Abu Sayyaf memebaskan sanndera asal Norwegia, Kjartan Sekkingstad. Warga Norwegia itu dibebaskan setelah diduga ditebus sebesar 30 juta peso.

Menhan: Pemerintah Tidak Keluarkan Sepeser Pun untuk Bebaskan Sandera

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan, Pemerintah Indonesia tidak mengeluarkan uang sepeser pun dalam membebaskan sandera di Filipina. Ketiga sandera yang berhasil dibebaskan, menurut Ryamizard, atas keberhasilan tentara Filipina dan Front Nasional Pembebasan Moro.

“Yang jelas, Pemerintah Indonesia dan Filipina tidak BOLEH keluarkan satu sen pun untuk tebusan,” ujar Ryamizard di Base Ops Halim Perdanakusuma Jakarta, Minggu (18/9/2016).

Menurut Ryamizard, dengan tidak berkompromi dengan kelompok penyandera, Pemerintah membuktikan bahwa Indonesia adalah negara besar yang berdaulat.

Sekali pun ada pihak keluarga atau simpatisan yang menyerahkan dana dan bantuan kepada kelompok penyandera, Indonesia tidak akan membayar tebusan.

“Kalau kami turuti, berarti kami dibawah tekanan mereka, gengsi dong, masa kelompok kecil menekan negara besar?” Kata Ryamizard.

Saat ini, baru tiga warga negara Indonesia yang dibebaskan kelompok Abu Sayyaf. Sementara, satu WNI lainnya yang ikut disandera, masih dalam proses pembebasan.

Rencananya, para sandera yang telah dibebaskan akan dipulangkan dalam waktu cepat.

Menhan Bantah Ada Uang Tebusan Buat Abu Sayyaf

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu menegaskan tidak ada uang tebusan dari pemerintah yang dibayarkan kepada Abu Sayyaf dalam proses pembebasan ini.

“Yang jelas pemerintah Indonesia dan Filipina tidak BOLEHmengeluarkan satu sen pun untuk tebusan. Kalau pun ada (uang) dari pihak keluarga atau simpatisan untuk operasional pembebasan di sana ya mungkin saja, tetapi saya tidak tahu dan tidak mau tahu,” ujarnya saat tiba di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Ahad (18/9) malam.

Ketiga sandera yang dibebaskan yakni Lorens Lagadoni Koten (34), Teodorus Kopong Koten (42), Emanuel Arakian Maran (46). Para pria asal Nusa Tenggara Timur itu merupakan anak buah pukat tunda LD/114/5S milik Chia Tong Len yang diculik di perairan Lahad Datu, Malaysia, Juli lalu.

Saat ini mereka berada di Zamboanga, Mindanao, untuk menjalani pemeriksaan kesehatan, dan telah diserahkan oleh Menhan kepada pihak KBRI Indonesia di Filipina. Pemulangan ketiga WNI tersebut akan segera dilakukan oleh Kementerian Luar Negeri RI.

Menhan belum dapat memastikan waktu pemulangan ketiga WNI tersebut karena itu merupakan wewenang Kementerian Luar Negeri. “Saya sudah menyerahkan mereka kepada Kemlu yang diwakili oleh dubes kita di sana (Filipina). Pemulangannya tergantung Kemlu, tetapi mudah-mudahan secepatnya,” ungkap dia.

Salah seorang pengajar di universitas di Sulu, Profesor Octavio Dinampo mendengar adanya uang tebusan yang dibayarkan ke penyandera. “Saya mendengar ada uang tebusan 30 juta Peso (Rp 8,2 miliar) telah dibayarkan kepada Abu Sayyaf,” kata Dinampo seperti dilansir dari Newsinfo.inquirer.net, Ahad (18/9).

Namun sejumlah sumber lain menyebut 30 juta peso itu untuk pembebasan Kjartan Sekkingstad, warga Norwegia yang turut dibebaskan bersama tiga WNI.

Sumber : Antara

Menhan Minta WNI Jauhi Wilayah Rawan Perompakan

TEMPO.CO, Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta warga negara Indonesia menghindari wilayah laut yang rawan perompakan dan penculikan. Hal itu disampaikannya saat kembali dari Filipina, seusai serah terima WNI yang bebas dari penyanderaan sejak Juli 2016.

Para WNI yang baru bebas dari tawanan Abu Sayyaf tersebut, adalah awak kapal pukat penangkap ikan berbendera Malaysia. Mereka adalah WNI asal Nusa Tenggara Timur, masing-masing bernama Emmanuel, Lorens Koten, dan Theodorus Kopong.

“Saya sampaikan pada mereka, juga ke teman-teman yang (lain) di NTT sana, tak usah lagilah cari-cari ikan di situ (wilayah rawan). Merepotkan, cari di tempat lain,” ujar Ryamizard lewat keterangan pers Kemhan, Senin, 19 September 2016.

Mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat itu pun berharap agar penculikan terhadap WNI tak terulang.

Emmanuel dan kedua rekannya diculik di perairan Lahad Datu, Sabah, Malaysia, pada 8 Juli 2016. Belum ada penjelasan resmi terkait dengan proses dan cara pembebasan para WNI itu, tapi Ryamizard sempat menyebut ada satu tawanan WNI lain, yang tengah dinegosiasikan pembebasannya.

“Mudah-mudahan bisa lepas satu, berarti empat. Kalau yang tiga sudah pasti, yang satu ini kan belum pasti,” ujar Ryamizard.

Kelompok Abu Sayyaf pun bertanggung jawab atas dua kasus penculikan lain yang terjadi pada Juni dan Agustus 2016.

Bebasnya Emmanuel dan rekannya mengurangi jumlah tawanan Abu Sayyaf. Dari sebelas WNI yang diculik dari tiga kasus perompakan berbeda, lima orang telah bebas.

Dua orang bebas pada Agustus lalu. Mereka adalah Muhammad Sofyan dan Ismail, dua dari tujuh awak kapal Charles 001 berbendera Indonesia, yang diculik pada 21 Juni 2016. Pembebasan lima orang lainnya tengah diupayakan baik oleh pemerintah Indonesia maupun Filipina.

Menhan Sebut Ada WNI yang Bantu Abu Sayyaf untuk Lancarkan Aksi Penyanderaan

Jakarta – Tahun ini Abu Sayyaf dan kroninya berulang kali melancarkan aksi penyanderaannya terhadap para WNI. Menteri Pertahanan RI Ryamizard Ryacudu mengaku jengah dengan hal tersebut, terlebih Ia menemukan peran orang Indonesia sendiri dalam aksi penyanderaan kelompok Abu Sayyaf.

“Yang memberikan informasi orang orang kita (WNI) juga nih, dia lapor Abu Sayyaf ada kapal yang lewat segala macam akhirnya jadi korban sandera lalu ditebus. Orang-orang yang kasih informasi ini dapat informasi juga nih. Kan tidak betul orang-orang kayak gini nih. Ini begitu-begitu sama saja dengan menjual negara,” tutur Ryamizard dengan nada meninggi di Aula Universitas Pattimura, Ambon, Maluku, Senin (19/9/2016).

“Lagi dicari, susah lah. Saya infonya ini dari Filipina, mereka juga bekas Abu Sayyaf. Kedepan diharapkan tidak ada lagi,” sambung dia.

Ryamizard menyatakan rasa kesalnya, ketika tahun ini ada sampai terulang lebih dari dua kali penyanderaan oleh kelompok Abu Sayyaf terhadap WNI. Dia juga memastikan, telah berkoordiansi dengan pemerintahan Filipina untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali.

“Begini rute itu sudah kita jaga ketatkan. Batu bara sudah kita kawal, di setiap tongkang yang berisi batu bara itu ada tentaranya dua tiga tentara bersenjata. Alhamdulillah sudah dua bulan ini tdak ada penculikan karena kita kawal,” kata dia.

“Yang belakang-belakang ini kan daerah situ, ke Malaysia situ ya masing-masing itu di kawal,” imbuhnya.

Khusus kepada tiga sandera yang baru saja dibebaskan kemarin, Menhan menitipkan pesan khusus kepada mereka. Pesan tersebut adalah agar para nelayan tidak melaut di wilayah-wilayah rawan yang telah ditetapkan pemerintah.

“Saya sudah bilang yang dibebaskan kemaren, kamu nanti pulang kasih tahu temen-temen yang di NTT sana nyari ikan tidak usah di sana-sana. Nyari ikan kenapa nggak di deket deket saja. Saya mengimbau supaya para nelayan disiplinlah. Tapi kalau misalnya nggak disiplin terus ditangkap tangkap capek lah. Bukan apa apa memang harus capek, tapi banyak kerjaan lain,” ungkapnya.

“Kalau satu dua tiga kali tidak apa-apa tapi kalau mengulang ya ini susah. Mudah-mudahan kemana mana kan ada angkatan laut, jadi kalau ada yang tidak disiplin kita tahu. Kerjasama dengan panglima sana, nanti saling bekerja sama dengan makodam sanalah,” tegas Ryamizard.

Sumber : detik




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia