TRANSLATE

Senyum Jokowi di Open House Idul Fitri

Selasa, 27 Juni 2017

REPUBLIKA.CO.ID, Berkemeja putih, jas hitam lengkap dengan kopiah hitam, dipadu padan sarung cokelat, Presiden Joko Widodo didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo, menyambut para tamu yang bersilaturahmi Hari Raya Idul Fitri 1438 Hijriah di Istana Negara, Ahad (25/6).

Dengan senyuman tak lepas menghiasi wajahnya, Jokowi menerima para pejabat negara, duta besar negara sahabat, hingga masyarakat dalam “Open House” di gedung yang dulunya dikenal dengan sebutan Istana Rijswijk.

Open House” tersebut adalah kali pertama dilakukan Presiden selama menjabat. Pada Idul Fitri 2015, Presiden merayakannya di Banda Aceh sedangkan pada 2016 dilangsungkan di Padang, Sumatera Barat.

Tahun ini, giliran warga ibukota yang boleh bersalaman dan menikmati sajian lebaran di istana. Turut mendampingi Presiden dan Ibu Negara, Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla.

Sebelum menerima para tamu yang hadir, “tamu” yang pertama disambut oleh Presiden adalah para wartawan yang biasa bertugas di Istana Kepresidenan. Presiden mendatangi para wartawan dan menyalami para jurnalis yang tetap bertugas di hari raya tersebut.

Selanjutnya, tamu pertama yang disambut sekitar pukul 09.00 WIB adalah Menteri Sekretaris Negara Pratikno bersama keluarga serta Sekretaris Kabinet Pramono Anung dan keluarga.

Kemudian tampak para menteri Kabinet Kerja beserta keluarga ikut bersalaman dan mengucapkan “Minal Aidin Wal Faidzin” kepada Presiden antara lain adalah Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dakiri, Menteri Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki Hadimuljono, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy.

Selanjutnya tampak Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri ESDM Ignatius Jona, Menteri Kesehatan Nila Moeloek, Menteri Sosial Khofifah Indar Parawangsa, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukito, Menteri Keuangan Sri Mulyani serta menteri lainnya.

Tidak ketinggalan Ketua DPR Setya Novanto beserta keluarga, ketua DPD Oesman Sapta Odang, Jaksa Agung Prasetyo, Ketua Mahkamah Agung Hatta Ali, Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian, Kapolda Metro Jaya Irjen Mochamad Iriawan, Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo, Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Hadi Tjahjanto, Kepala Badan Ekonomi Kreatif Triawan Munaf yang datang bersama anaknya penyanyi Sherina Munaf serta para pejabat lainnya seperti Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Antonio Guido Filipazzi.

Sejumlah tamu yang sempat membuat “heboh” antrian silaturahmi adalah kedatangan pasangan Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih Anies Baswedan dan Sandiaga Uno –yang kompak mengenakan sarung– bersama keluarga masing-masing.

“Satu, dua, tiga,” kata Presiden Joko Widodo menghitung anak-anak Anies Baswedan yang ikut dibawa bersilaturahmi. Anies datang bersama dengan istrinya Fery Farhati Ganis dan anak-anaknya yaitu Mutiara Annisa Baswedan, Mikail Azizi Baswedan, Kaisar Hakam Baswedan dan Ismail Hakim Baswedan yang kompak mengenakan baju warna putih.

“Minal Aidin Wal Faidzin,” kata Anies.

Tepat di belakang Anies dan keluarga, Sandiaga Uno beserta dengan istrinya Nur Asia dan anaknya Amyra Atheefa Uno. Sandiaga dan keluarga juga mengenakan kostum putih saat bersalaman dengan Presiden.

“Tadi saling mengucapkan selamat hari raya, mengucapkan maaf lahir dan batin, tidak ada pesan khusus. Tidak ada ‘ngomong kerjaan’ ini lagi lebaran,” kata Anies seusai bersilaturahmi.

Tidak lama setelah Anies dan Sandiaga, putra Presiden ke-6 Indonesia, Agus Harimurti Yudhoyono dan adiknya Edhi Baskoro Yudhoyono ditemani istri mereka –Annisa Pohan dan Siti Rubi Aliya Radjasa ikut bersilaturahmi.

Bila Anies dan Sandiaga tampak santai, sebaliknya Agus dan Ibas –panggilan Edhi Baskoro– mengenakan batik biru lengan panjang rapi sedangkan Annisa dan Rubi kompak memakai kebaya modern warna biru dipadu dengan kain tenun. Keempatnya tampak gemerlap tanpa terlihat berlebihan.

Tentu bukan hanya para petinggi yang mendapat jatah salaman dan senyuman dari Presiden, masyarakat biasa pun dapat bersalaman dengan presiden setelah mengantri di kantor Sekretariat Negara. Warga pun ada yang mengenakan sarung dan sandal meski tidak sedikit yang mengenakan gamis. Mereka yang sudah selesai bersalaman dapat menikmati sajian istana seperti somay, bakso, bakwan malang hingga kue-kue kering di depan Wisma Negara.

Tidak hanya itu, Presiden juga menyediakan “bingkisan” berupa beras, gula, teh dan minyak goreng ditambah roti dalam bungkusan merah putih yang dibagikan di depan gedung II Setneg. Bagi mereka yang bersabar, biro pers kepresidenan juga mencetak foto saat warga bersalaman dan warga dapat mendapatkan foto itu secara cuma-cuma.

Hal yang menarik, tidak hanya Presiden yang memberikan bingkisan, karena ada juga masyarakat yang memberikan “bingkisan” kepada Presiden seperti amplop berisi surat dan CD lagu. Meski sempat beristirahat selama sekitar 10 menit untuk duduk dan melemaskan tangan, akhirnya silaturahmi tersebut berakhir sekitar pukul 11.30 WIB. Silaturahmi pun berhasil mendekatkan yang jauh dan menyatukan yang dekat.

Pesan kesatuan

Pesan kesatuan itu juga kental terdengar dalam khutbah salat Idul Fitri yang dibawakan oleh pendiri Pusat Studi Alquran Quraish Shihab di masjid Istiqlal.

“Tanah air kita terbentang dari Sabang sampai Merauke harus dibangun dan dimakmurkan serta dipelihara persatuan dan kesatuannya,” kata Quraish. Pesan itu didengar oleh Presiden Joko Widodo, Wapres Jusuf Kalla serta ribuan umat muslim yang berada di masjid terbesar di Asia Tenggara itu.

Persatuan dan kesatuan menurut Quraish adalah anugerah Tuhan yang tidak ternilai karena sebaliknya, perpecahan dan tercabik-cabiknya masyarkat adalah bentuk siksa Allah. Kesatuan itu sendiri pun punya tiga arti.

“Pertama, kesatuan seluruh makhluk karena semua makhluk kendati berbeda-beda namun semua diciptakan dan di bawah kendali Allah,” ungkap Quraish.

Arti kedua adalah, karena semua manusia berasal dari tanah sehingga semua manusia harus dihormati kemanusiannya, baik yang masih hidup maupun yang telah wafat walau mereka durhaka.

“Memang jika ada manusia yang menyebarkan teror, mencegah tegaknya keadilan, menempuh jalan yang bukan jalan kedamaian, maka kemanusiaan harus mencegahnya,” ujar Quraish.

Arti ketiga adalah kesatuan bangsa meski berbeda agama, suku, kepercayaan maupun pandangan politik.

“Mereka semua bersaudara, berkedududukan sama dari kebangsaan. Kesadaran tentang kesatuan dan persatuan itulah yang mengharuskan kita duduk bersama bermusyawarah demi kemaslahanan dan itulah makna ‘kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan’,” tambah Quraish.

Dampak dari tiga arti kesatuan itu adalah mengantarkan manusia menjadi utuh sehingga tidak terjadi pemisahan antara keimanan dan pengamalan, tidak juga perasaan dan perilaku, perbuatan dengan moral, idealitas dengan realitas, tapi masing-masing merupakan bagian yang saling melengkapi.

“Manusia yang ber-Idul Fitri kembali ke asal kejadiannya. Anda menemukan dia teguh dalam keyakinan. Teguh tapi bijaksana, senantiasa bersih walau miskin, hemat dan sederhana walau kaya, murah hati dan murah tangan, tidak menghina dan tidak mengejek, tidak menyebar fitnah, tidak menuntut yang bukan haknya dan tidak menahan hak orang lain,” tambah Quraish.

Alquran mengajarkan sebelum manusia ditugaskan ke bumi, Tuhan memerintahkannya transit lebih dulu di surga agar Adam dan Hawa memperoleh pelajara berharga di sana.

“Situasi demikian, dialami manusia modern pertama itu bukan saja agar jika mereka tiba di bumi mereka rindu kepada surga tapi juga agar beruwaha mewujudkan bayang-bayang surga itu ke dalam kehidupan di bumi ini yakni hidup sejahtera, terpenuhi kebutuhan pokok setiap individu dalam suasana damai bebas dari rasa takut yang mencekam, bebas dari kesedihan yang berlarut,” ujar Quraish.

Quraish mengingatkan, agar manusia tidak terperdaya dengan tipu daya Iblis dan mengalami kepahitan akibat menurutinya. “Saudara, kata Iblis diambil dari bahasa Yunani Kuno yakni ‘Diabolos’ yang berarti sosok yang memfitnah, yang memecah belah dan menanamkan prasangka buruk. Dengan ber-Idul Fitri hendaknya kita sadar tentang peranan Iblis dan pengikut-pengikutnya dalam menyebar fitnah dan ‘hoax’ serta menanamkan buruk serta memecah belah kesatuan,” tegas Quraish.

Idul Fitri akhirnya menjadi momentum untuk membina dan memperkukuh ikatan kesatuan dan persatuan, menyatupadukan hubungan kasih sayang antara sebangsa dan setanah air tentu tidak ketinggalan harus dengan senyum dan salaman.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia