TRANSLATE

Menhan: Nilai Luhur Pancasila Mulai Luntur Sejak Era Reformasi

Rabu, 16 Agustus 2017

Jakarta – Menteri Pertahanan (Menhan), Ryamizard Ryacudu, menyebutkan, nilai luhur Pancasila mulai luntur sejak reformasi bergulir. Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai landasan utama dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

“Artinya, Pancasila tidak lagi dijadikan sebagai acuan dalam berpikir, bersikap, dan bertingkah laku maupun dalam menentukan dan menyusun tata aturan hidup berbangsa dan bernegara. Pada akhirnya, kita seperti kehilangan jati diri dan kepribadian bangsa,” ujar Ryamizard di acara Konferensi Nasional (Konfernas) Umat Katolik, di Gedung Yustinus, Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (12/8).

Nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, kata Ryamizard, sejatinya digali dari budaya bangsa Indonesia sendiri. Menurutnya, jika Pancasila tidak dijadikan falsafah dalam berbangsa dan bernegara, bangsa Indonesia akan kehilangan roh dan jiwanya.

“Dampaknya, masyarakat akan mudah disusupi oleh ideologi asing yang belum tentu sesuai dengan akar budaya bangsa,” tandasnya.

Ryamizard mencontohkan, beberapa negara yang telah hancur karena ideologi dan simbol persatuan dirusak oleh pengaruh ideologi lain, sebut saja misalnya Yugoslavia, dan Uni Soviet (sekarang menjadi pecahan beberapa negara).

“Setiap negara memiliki konsep ideologi masing-masing sebagai simbol pemersatu. Seperti komunisme di Tiongkok dan Korea Utara, liberalisme di Amerika Serikat, monarki atau kerajaan di Inggris dan syariah Islam di Arab Saudi dan beberapa negara Timur Tengah,” paparnya.

Indonesia, kata Ryamizard, memiliki ideologi Pancasila yang digali dari warisan nilai luhur bangsa Indonesia. Pancasila, lanjut dia, kemudian dijadikan falsafah sekaligus sebagai jati diri bangsa Indonesia.

“Sebagai falsafah hidup atau pandangan hidup bangsa, Pancasila mengandung nilai-nilai filosofis yang mencerminkan hakikat, asal, tujuan, nilai, dan arti dunia seisinya, khususnya manusia dan kehidupannya, baik secara perorangan maupun sosial,” tambahnya.

Bela Negara

Dalam kesempatan ini, Ryamizard juga menyinggung kesadaran bela negara. Menurutnya, bela negara merupakan metode yang telah terbukti ampuh guna menangkal seluruh bentuk ancaman terhadap keutuhan dan integritas bangsa.

“Dengan kesadaran bela negara ini, kita akan memiliki kesadaran untuk mengamankan dan melestarikan jati diri, budaya dan kekayaan alam Indonesia, sekaligus menjaga keutuhan dan persatuan nasional,” kata dia.

Esensi dari kesadaran bela negara, lanjut Ryamizard, adalah merealisasikan nilai-nilai cinta tanah air, kesadaran berbangsa dan bernegara, setia pada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta mempunyai kemampuan awal bela negara baik psikis maupun fisik.

“Melalui bela negara ini diharapkan terbangun karakter disiplin, optimisme, kerja sama dan kepemimpinan guna turut menjamin kelangsungan hidup bangsa dan negara,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

 

 

 

 

.

Menhan Ryamizard: Program Bela Negara Penting Diterapkan Sejak Dini

 

JAKARTA, NETRALNEWS.COM – Menteri Pertahanan (Menhan)Ryamizard Ryacudu menegaskan, bahwa ancaman modernisme dan globalisasi ideologi terhadap bangsa Indonesia akan sangat membahayakan bangsa. Menurut dia, bahwa di era modernisme dan globalisasi, berbagai ideologi masuk ke Indonesia dan mengancam keberadaan ideologi negara, yaitu Pancasila.

“Jika kita tidak kuat, maka kita akan mudah dirasuki oleh ideologi-ideologi lain. Yang dimaksud dengan ideologi yang lain itu seperti liberalisme, komunisme, dan radikalisme Islam yang mengancam keutuhan dan ketahanan bangsa,” kata Menhan Ryamizard saat menjadi pembicara dalam acara Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia yang diselenggarakan oleh Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) di Gedung Yustinus Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta , Sabtu (12/8/2017). 

Lanjut Menteri Pertahanan, untuk itu perlu merevitalisasi nilai-nilai Pancasila untuk memperkuat jati diri bangsa. Pancasila harus menjadi pandangan hidup dan dasar negara, sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan roh.

“Kalau ideologi-ideologi lain itu dibuat manusia, tetapi Pancasila ditemukan oleh presiden pertama Bung Karno sebagai rahmat dari Tuhan. Pancasila itu bersifat batin sehingga tidak bisa dikalahkan oleh ideologi lain. Intinya, kita harus menjiwai dan mengimplementasikan Pancasila dalam sikap dan tingkah laku masyarakat Indonesia,” tegas Menhan

Untuk mengantisipasi masuknya paham radikalisme, terorisme dan lainnya yang mengancam perpecahan bangsa maka program bela negara itu sangatlah penting diterapkan sejak dini kepada anak-anak kita. Terutama di ruang lingkup sekolah formal. Dan, hal itu Ryamizard mengaku telah menyampaikan niat itu kepada pihak-pihak terkait.

“Konsep bela negara harus mulai ditanamkan dari TK. Saya sudah sampaikan ke Presiden, Mendikbud dan Dikti,” singgung Menhan

Salah satu program yang diajukan oleh Kemenhan RI antara lain, program perpeloncoan yang selama ini identik dengan penerimaan siswa dan mahasiswa baru juga perlu dihapuskan. Istilah dan kegiatan itu diganti dengan “Pekan Mahasiswa”.

“Saya sudah berbicara dengan beberapa rektor agar pelonco-pelonco itu diganti saja. Pelonco diganti dengan dasar bela negara yang dilakukan selama pekan mahasiswa” ujar Ryamizard.

Bela Negara itu bukan berati perang fisik tapi secara mindset, jadi janganlah diartikan bela negara itu harus mengangkat senjata, tegasnya.

.

Menteri Jonan: Saya 100 Persen Katolik, Juga 100 Persen Indonesia  

TEMPO.CO, Jakarta – Manteri Energi dan Sumber Daya Mineral Ignasius Jonan mengatakan dia tidak pernah merasa minoritas meski ia merupakan satu-satunya menteri yang beragama Katolik dalam kabinet Presiden Joko Widodo.

“Saya 100 persen Katolik. Tapi saya juga 100 persen Indonesia,” kata Jonan dalam acara Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia di Universitas Katolik Atma Jaya, Jakarta, Sabtu, 12 Agustus 2017.

Menurut Jonan, Indonesia adalah bangsa yang majemuk. Sejak kecil, ia terbiasa dengan toleransi. Dia memiliki adik kandung yang beragama Islam dan tak pernah mempermasalahkannya. “Karena saya berbineka, toleransi aja enggak apa-apa. Saya punya keyakinan sendiri. Adik saya punya sendiri,” ujar Jonan.

Jonan bahkan mengatakan ia juga bakal memperlakukan anaknya dengan cara yang sama. Mantan Menteri Perhubungan ini akan membebaskan anaknya untuk memilih agama sesuai dengan kepercayaan mereka sendiri.

“Saya besarkan anak saya dengan agama Katolik. Tapi, kalau dia sudah besar punya keyakinan sendiri, ya enggak apa-apa. Saya fair,” kata Jonan.

Menurut Jonan, keyakinan itu tidak seharusnya diperdebatkan. Bapak-bapak bangsa Indonesia dari Sabang sampai Merauke telah berbineka sejak awal. “Kalau mau bangsa ini tetap ada ya harus berbineka,” ujarnya.

Senada dengan Menteri Ignasius Jonan, Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengatakan perbedaan suku, bangsa, dan agama itu tidak perlu dipermasalahkan. Sebab, menurut dia, mempermasalahkan perbedaan hanya akan menimbulkan riak-riak kecil permusuhan menjadi besar. “Masalah ini sangat penting. Saya mau negara ini besar. Mudah-mudahan jiwanya juga besar,” ujar Ryamizard.

.

Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia,  Pancasila Sudah Final Jadi Dasar Negara Indonesia

Jakarta – Pancasila merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia yang beraneka ragam. Karena itu, Pancasila harus senantiasa dijaga, dipelihara dan diimplementasikan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Pancasila sudah final menjadi falsafah dan dasar negara Republik Indonesia.

Hal ini terungkap dalam pembukaan Konferensi Nasional (Konfernas) Umat Katolik Indonesia yang diselenggarakan di Universitas Atma Jaya, Jakarta, Sabtu (12/8). Konfernas bertajuk “Revitalisasi Pancasila” dibuka Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Anton Bunjamin dengan keynote speaker Menteri ESDM, Ignasius Jonan. Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Ryamizard Ryacudu, Menkominfo Rudiantara, dan penggerak Gerakan Sosial Pancasila, Bambang Ismawan, juga menyampaikan materi dalam acara tersebut.

Sekjen KWI Mgr Anton Bunjamin menegaskan bahwa Pancasila sudah final, tidak perlu diperdebatkan lagi untuk menjadi falsafah hidup dan dasar negara Republik Indonesia. Pancasila telah terbukti menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

“Kita tidak perlu lagi mempersoalkan Pancasila karena nilai-nilai Pancasila berakar dari budaya bangsa kita sehingga terbukti Pancasila menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan multikultutal. Yang perlu kita lakukan adalah menjiwai dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” ujar Anton Bunjamin.

Pernyataan Anton diperkuat oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan. Menurut Jonan, nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi dan menghargai keberagaman harus mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

“Penting bagi kita bagaimana mewujudkan nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, menghargai keberagaman karena sejak dari awal Indonesia sudah plural,” tegasnya.

Suasana Konferensi Nasional Umat Katolik Indonesia di Jakarta.

Jonan juga mengatakan bahwa bukan saatnya lagi masyarakat Indonesia membicarakan perbedaan dan menonjolkannya. Masyarakat harus bisa menghargai satu sama lain untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila agar Indonesia tetap kuat, sejahtera, dan makmur.

“Misalnya, dalam promosi atau pengisian jabatan, jangan lagi lihat unsur SARA, tetapi harus berdasarkan kompetensi dan kualitas orang, sehingga kita bisa menempatkan orang sesuai dengan keahliannya,” katanya.

Jonan juga berpesan kepada umat Katolik agar benar-benar mewujudkan nilai-nilai Pancasila dalam keseharian hidup. Moto “100 persen Indonesia, 100 persen Katolik” jangan hanya jadi kata semata, tetapi harus dijiwai dan diimplementasikan.

Sementara itu, Ryamizard Ryacudu mengingatkan akan ancaman modernisme dan globalisasi terhadap bangsa Indonsia. Menurutnya, di era modernisme dan globalisasi, berbagai ideologi masuk Indonesia dan mengancam keberadaan ideologi negara, yaitu Pancasila.

“Jika kita tidak kuat, maka kita akan mudah dirasuki oleh ideologi-ideologi lain, seperti liberalisme, komunisme, dan radikalisme Islam yang mengancam keutuhan dan ketahanan bangsa,” ungkapnya.

Karena itu, Ryamizard menilai perlu merevitalisasi nilai-nilai Pancasila untuk memperkuat jati diri bangsa. Pancasila harus menjadi pandangan hidup dan dasar negara, sehingga bangsa Indonesia tidak kehilangan roh.

“Kalau ideologi-ideologi lain itu dibuat manusia, tetapi Pancasila ditemukan oleh presiden pertama Bung Karno sebagai rahmat dari Tuhan. Pancasila itu bersifat batin sehingga tidak bisa dikalahkan oleh ideologi lain. Intinya, kita harus menjiwai dan mengimplementasikan Pancasila dalam sikap dan tingkah laku masyarakat Indonesia,” pungkasnya.

Sumber: BeritaSatu.com

.

Menteri Jonan: Pancasila Sudah Final Jadi Dasar Negara Indonesia

JAKARTA, NETRALNEWS.COM –  Menteri ESDM, Ignasius Jonan menegaskan, Pancasila merupakan anugerah dari Tuhan Yang Maha Esa untuk bangsa Indonesia, yang beraneka ragam. Oleh karena itu, Pancasila harus senantiasa dijaga, dirawat, dipelihara dan diimplementasikan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Jadi, Pancasila sudah final menjadi falsafah dan dasar negara Republik Indonesia.

Pernyataan itu terlontar saat Jonan menjadi keynote speaker dalamKonferensi Nasional Umat Katolik Indonesia yang digelar KonferensiWaligereja Indonesia (KWI) di Gedung Yustinus Universitas Katolik Atma Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Sabtu (12/8/2017). 

Konfernas yang mengangkat tema “Revitalisasi Pancasila” dibuka Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) Mgr Anton Bunjamin dengan keynote speaker Menteri ESDM, Ignasius Jonan. Selain itu hadir juga Menteri Pertahanan Letjen (Purn) Ryamizard Ryacudu, Menkominfo Rudiantara, dan penggerak Gerakan Sosial Pancasila, Bambang Ismawan yang juga menyampaikan materi dalam acara tersebut.

Dalam kesempatan tersebut Sekjen KWI Mgr. Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C , mengatakan, bahwa Pancasila sudah final, tidak perlu diperdebatkan lagi untuk menjadi falsafah hidup dan dasar negara Republik Indonesia. Karena, Pancasila telah terbukti menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

“Kita tidak perlu lagi mempersoalkan Pancasila karena nilai-nilai Pancasila berakar dari budaya bangsa kita sehingga terbukti Pancasila menjadi wadah pemersatu bangsa Indonesia yang beraneka ragam dan multikultutal. Yang perlu kita lakukan adalah menjiwai dan mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan berbangsa dan bernegara,” tegas Uskup Bunjamin. 

Adapun, pernyataan Sekjen KWI itu ditegaskan kembali oleh Menteri ESDM Ignasius Jonan. Menurut Jonan, nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi dan menghargai keberagaman harus mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia.

“Penting bagi kita bagaimana mewujudkan nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, menghargai keberagaman karena sejak dari awal Indonesia sudah plural,” ujarnya. 

Menurut Menteri Jonan, demikian mantan Menteri Perhubungan itu disapa, mengatakan bahwa bukan saatnya lagi masyarakat Indonesia membicarakan perbedaan dan menonjolkannya. Jadi, masyarakat harus bisa menghargai satu sama lain untuk mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila agar Indonesia tetap kuat, sejahtera, dan makmur.

Dia mencontohkan, dalam promosi atau pengisian jabatan, jangan lagi lihat unsur SARA, tetapi harus berdasarkan kompetensi dan kualitas orang, sehingga kita bisa menempatkan orang sesuai dengan keahliannya.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia