TRANSLATE

Perang Cuci Otak, Menhan Ryamizard: Ancaman yang Kita Hadapi

Kamis, 12 Juli 2018

NUSANTARANEWS.CO, Jakarta – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan bahwa, bangsa Indonesia kini tengah menghadapi ancaman yang semakin kompleks dinataranya adalah perang cuci otak.

“Ancaman yang kita hadapi semakin kompleks baik ancaman yang belum nyata maupun ancaman nyata seperti ancaman perang cuci otak,” kata Menhan Ryamizard, saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh, Rabu (4/7/2018).

Oleh sebab itu, Menhan meminta semua komponen bangsa untuk memperkuat infrastruktur pertahanan untuk menghadapi beragam ancaman tersebut. Selain itu, ia menyampaikan bahwa, fenomena potensi ancaman terhadap NKRI terbagi dua dimensi ancaman utama.

Pertama, ancaman belum nyata, yaitu ancaman perang terbuka antarnegara. Dan yang kedua adalah ancaman sangat nyata yang sedang dan kemungkinan dapat dialami setiap negara di kawasan. Ancaman ini dihadapi baik secara sendiri-sendiri maupun yang bersifat lintas negara.

“Saat ini seluruh belahan dunia tengah menghadapi potensi ancaman sangat nyata, yakni terorisme dan radikalisme generasi ketiga pasca Al Qaeda dan DAESH, bencana alam, narkoba, dan yang paling berbahaya adalah ancaman perang cuci otak,” kata Menhan.

Menhan Ryamizard menambahkan, ada beberapa isu faktual di kawasan. Isu tersebut, yakni situasi di Semenanjung Korea, perkembangan di Laut China Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS Asia Timur serta perkembangan krisis Rohingya.

.

Selain Narkoba, Perang Cuci Otak Terus Mengancam Bangsa Indonesia

INDUSTRY.co.id – Banda Aceh- Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu meminta semua komponen bangsa untuk memperkuat infrastruktur pertahanan guna menghadapi beragam ancaman termasuk perang cuci otak.

“Ancaman yang kita hadapi semakin kompleks baik ancaman yang belum nyata maupun ancaman nyata seperti ancaman perang cuci otak,” katanya, saat memberikan pengarahan kepada prajurit TNI Kodam Iskandar Muda di Banda Aceh, Rabu (4/7/2018)

Menhan mengatakan ada enam hal pedoman penting untuk memperkuat infrastruktur pertahanan yakni komunikasi yang efektif antara pemimpin dan anak buahnya, strategi negara menghadapi ancaman nyata, penguatan ‘mindset’ seluruh komponen bangsa menghadapi perang cuci otak, penanaman nilai-nilai kesadaran bela negara, situasi aktual pasca Pilkada serentak 2018 dan Pilpres 2019 serta pentingnya peningkatan profesionalisme prajurit.

Ryamizard menuturkan fenomena potensi ancaman terhadap NKRI terbagi dua dimensi ancaman utama yakni ancaman belum nyata yaitu ancaman perang terbuka antarnegara dan ancaman sangat nyata yang sedang dan kemungkinan dapat dialami setiap negara di kawasan baik secara sendiri-sendiri maupun yang bersifat lintas negara.

“Saat ini seluruh belahan dunia tengah menghadapi potensi ancaman sangat nyata yakni terorisme dan radikalisme generasi ketiga pasca Al Qaeda dan DAESH, bencana alam, narkoba, dan yang paling berbahaya adalah ancaman perang cuci otak,” katanya.

Selain itu, tambah Ryamizard, ada beberapa isu faktual yang di kawasan yakni situasi di Semenanjung Korea, perkembangan di Laut China Selatan, isu trilateral pengamanan Laut Sulu dari potensi ancaman ISIS Asia Timur serta perkembangan krisis Rohingya.

“Untuk menghadapi beragam potensi ancaman tersebut diperlukan konsep pembangunan ‘mindset’ seluruh rakyat Indonesia melalui penanaman wawasan kebangsaan yang berlandaskan Pancasila sebagai ideologi negara agar tidak mudah dipengaruhi dan terprovokasi oleh upaya pencucian otak dari kelompok tertentu,” kata Menhan menekankan.

Selain itu, desain strategi pertahanan negara diarahkan dengan konsep perang rakyat semesta atau total ‘warfare’ yang melibatkan pembangunan seluruh komponen bangsa dilandasi penanaman nilai-nilai kesadaran bela negara disertai pembangunan kekuatan TNI dengan alutsistanya sebagai komponen utama pertahanan negara.

“Intinya, hanya ada satu kata kunci untuk menghadapi keniscayaan masuknya beragam potensi ancaman fisik dan non fisik, yaitu perkuat identitas dan jati diri bangsa, perkuat persatuan serta kesatuan bangsa dengan penanaman nilai-nilai Pancasila dan kesadaran bela negara,”demikian Menhan Ryamizard.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia