TRANSLATE

Menhan: Bela Negara dan Deradikalisasi untuk Melawan Terorisme

Jumat, 9 November 2018

Jakarta – Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu mengemukakan pemerintah menggunakan dua pola dalam melawan terorisme. Keduanya adalah hard approach dan soft approach.

Hard approach berupa pengejaran, penangkapan dan penembakan para pelaku terorisme. Sementara itu soft approach berupa pendekatan lunak yang mengajak dan mengubah pelaku terorisme untuk berubah.

Hal itu disampaikan Ryamizard saat menjadi pembicara kunci dalam seminar bertema “Ensuring Regional Stability through Cooperation on Counter Terrorism” di JIExpo Kemayoran, Jakarta, Kamis (8/11).‎ Seminar itu merupakan rangkaian kegiatan pameran Indo Defence 2018. Hadir pada acara itu, perwakilan dalam bidang pertahanan dari sejumlah negara yang mengikuti pameran.

Ryamizard menjelaskan ada dua pendekatan lunak (soft approach)yang digunakan Indonesia. Pertama adalah kegiatan Bela Negara. Konsep ini menjaga “Mindset” dan “Jiwa Bangsa” melalui pemantapan ideologi Pancasila. Ideologi Pancasila sebagai satu-satunya “Konsep Ideologi Negara” yang dikemas dengan konsep penanaman kesadaran bela negara.‎

Tujuannya untuk memberikan penanaman nilai-nilai cinta Tanah Air, siap berkorban untuk bangsa dan negara serta berbuat baik dan taat hukum serta menjauhi paham-paham radikal.

“Konsep ini dibangun agar seluruh rakyat Indonesia tidak terpengaruh oleh ajakan-ajakan yang memakai kedok agama Islam. Sekaligus sebagai kekuatan daya tahan dan daya tangkal terhadap ajakan dan doktrin paham radikal,” kata Ryamizard.

Sementara ‎dengan konsep deradikalisasi, Ryamizard menjelaskan ‎hampir sama dengan bela negara. Bedanya program ini lebih banyak dilakukan dari sisi keagamaan. Dalam program ini, pemerintah mengajak para ulama dan tokoh-tokoh agama, pengarahan-pengarahan, ceramah kepada Ormas-Ormas untuk mengubah mindset para anggota teroris. Dengan pendekatan seperti itu diharapkan mereka bisa beralih dari paham yang mereka pegang.

“Deradikalisasi untuk memberikan kesadaran dan pada saatnya dapat dikembalikan kepada masyarakat. Pemerintah melakukan upaya deradikalisasi untuk membersihkan mindset paham radikal yang ditanamkan oleh kelompok teroris,” tutup Ryamizard.



Sumber: Suara Pembaruan

.

Menhan: Dari 800 anggota ISIS Asia Tenggara, 700 dari Indonesia

Merdeka.com – Menteri Pertahanan Ryamizard Ryacudu mengungkapkan sekitar 700 WNI tergabung menjadi pejuang ISIS. Sementara, berdasarkan data intelijen, ISIS memiliki sebanyak 31.500 pejuang asing, termasuk dari Indonesia.

“Berdasarkan data intelijen ada sekitar 31.500 Pejuang ISIS asing yang bergabung di Syria dan Irak. Dari jumlah tersebut 800 berasal dari Asia Tenggara dan diantaranya 700 dari Indonesia,” ucap Ryamizard dalam Seminar Indo Defence Kementerian Pertahanan tentang Ensuring Regional Stability Through Cooperation on Counter Terrorism di Jakarta, Kamis (8/11).

Dia memandang, ajakan menjadi militan ISIS sebagai bentuk ancaman generasi ketiga. ISIS, kata Ryamizard, merupakan buah dari konflik politik domestik Suriah dan Irak, di mana kegiatannya sama sekali tidak terkait dengan keagamaan.

“Supaya keren dan banyak temannya dia ngaku Islam agar seluruh dunia bantu dia. Bajingan saya katakan. Bajingan, merusak Islam,” ungkap Ryamizard.

Ryamizard menyebut 700 Indonesia yang bergabung ke ISIS itu sebagai orang bodoh.

“Mereka bodoh-bodoh yang bergabung. Bahkan kalau tidak salah dari laporan ada 70 orang Indonesia itu ditangkap di Filipina,” jelas Ryamizard.

Tak hanya itu, mantan KSAD ini menjelaskan gerakan terorisme ini terus berevolusi. Modus dari gerakan radikal terus berkembang agar tidak mudah dideteksi.

“Seperti yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Di mana kelompok ISIS ini menggunakan modus baru. Dimana teroris menggunakan satu keluarga diSurabaya. Sekali lagi mereka bukan Islam, saya malu. Kita harus berantas teroris itu,” pungkasnya.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia