TRANSLATE

Tanggapi Tragedi Pembantaian di Nduga, Menhan Ryamizard Ryacudu : Bagi Saya Tidak Ada Negosiasi

Jumat, 7 Desember 2018

TRIBUNNEWS.COM – Pembunuhan tak bisa ditolerir terjadi di jalan Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi Kabupaten Nduga, Papua pada Minggu (2/12).

Sebanyak 31 pekerja pembangunan dibunuh oleh pelaku yang diduga dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) Papua.

31 Orang pekerja itu ialah karyawan dari BUMN PT Istaka Karya yang tengah bekerja membangun jembatan untuk membuka isolasi wilayah tersebut.

Dikutip dari Kompas.com, Rabu (5/12) Menteri Pertahanan (Menhan) Ryamizard Ryacudu menanggapi dengan tegas peristiwa ini.

Ryamizard yang juga pencetus pembentukan Batalyon Raider TNI AD ini mengatakan jika para pembunuh bukan lagi kelompok kriminal namun pemberontak.

Hal ini lantaran kelompok bersenjata itu juga memiliki agenda politik untuk memisahkan Irian Jaya dari NKRI.

“Mereka itu bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kenapa saya bilang pemberontak? Ya kan mau memisahkan diri, (memisahkan) Papua dari Indonesia. Itu kan memberontak bukan kriminal lagi,” tutur Ryamizard di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/12).

Maka bisa disebut para pelaku pembunuhan adalah gerakan separatis.

.

Menhan Ryamizard : Tak Ada Negosiasi, TNI Harus Tangani Pembunuhan 31 Pekerja Jembatan di Nduga

BANJARMASINPOST.CO.ID, JAKARTAMenteri PertahananRyamizard Ryacudu menilai, TNI harus turun tangan menangani pembunuhan 31 pekerja pembangunan jalan di Kali Yigi-Kali Aurak, Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Papua, Minggu (2/12/2018), yang diduga dibunuh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB)

Menurut Ryamizard, para pelaku adalah kelompok pemberontak atau separatis. Oleh sebab itu, kata dia, mereka harus ditindak secara tegas.

“Bagi saya tidak ada negosiasi. Menyerah atau diselesaikan. Itu saja,” ujar Ryamizard di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (4/12/2018).

Ryamizard mengatakan, kelompok bersenjata tersebut juga memiliki agenda politik, yakni memisahkan Papua dari Indonesia.

Ia menegaskan, TNI memiliki tugas pokok untuk menjaga kedaulatan, keutuhan dan keselamatan bangsa Indonesia.

“Mereka itu bukan kelompok kriminal tapi pemberontak. Kenapa saya bilang pemberontak? Ya kan mau memisahkan diri, (memisahkan) Papua dari Indonesia. Itu kan memberontak bukan kriminal lagi,” tuturnya.

Pembunuhan sadis diduga dilakukan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di wilayah Nduga, Papua, terhadap 31 pekerja pembangunan jalan.

Sebanyak 31 orang tersebut merupakan pekerja BUMN PT Istaka Karya. Mereka bekerja untuk membuka isolasi di wilayah pegunungan tengah.

Lokasinya jauh dari ibu kota Nduga dan Kabupaten Jayawijaya yang terdekat dari wilayah pembangunan jembatan.

Informasi yang diterima dari berbagai sumber, para pekerja pembangunan jembatan itu diduga dibunuh lantaran mengambil foto pada saat perayaan HUT Tentara Pembebasan Nasional Organisasi Papua Merdeka (TPN/OPM) oleh KKB tak jauh dari lokasi kejadian.

Saat salah satu pekerja mengambil foto, hal itu kemudian diketahui oleh kelompok KKB.

Hal itu membuat mereka marah dan mencari orang yang mengambil foto hingga berimbas kepada pekerja lainnya yang ada di kamp pembangunan jembatan.

Kapolres Jayawijaya, AKBP Yan Pieter Reba membenarkan informasi itu.

Menurut Reba, sebanyak 24 orang dibunuh di kamp. Lalu 8 orang sebelumnya berhasil menyelamatkan diri ke salah satu rumah keluarga anggota DPRD setempat.




Hak Cipta © Kementerian Pertahanan Republik Indonesia